Arab Saudi Turun Gunung di "Kisruh" AS-Iran, Pesan Ini ke Donald Trump
Jakarta, CNBC Indonesia - Arab Saudi dilaporkan tengah memimpin inisiatif negara-negara Teluk, termasuk Qatar dan Oman, untuk membujuk Amerika Serikat (AS) agar membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran. Langkah diplomasi ini dilakukan menyusul meningkatnya ketegangan di kawasan yang mengancam stabilitas ekonomi dan politik global.
Menurut laporan The Wall Street Journal (WSJ), Riyadh sangat mengkhawatirkan dampak ekonomi jika terjadi eskalasi militer. Selain itu, Arab Saudi mengantisipasi risiko gejolak domestik yang besar, terutama jika serangan tersebut sampai menargetkan atau menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Negara-negara Arab menggarisbawahi bahwa serangan terhadap Iran berisiko tinggi mengganggu lalu lintas kapal tanker minyak di Selat Hormuz. Jalur sempit yang memisahkan Iran dengan tetangga Arabnya ini merupakan urat nadi energi dunia yang memfasilitasi sekitar seperlima dari total pengapalan minyak global. Gangguan di titik ini dipastikan akan memicu guncangan hebat pada pasokan energi dunia.
Langkah darurat ini diambil setelah AS memberikan instruksi kepada sekutu-sekutunya di Teluk untuk bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi. Peringatan dari Washington tersebut memicu kekhawatiran mendalam di ibu kota negara-negara Teluk mengenai keamanan energi dan stabilitas infrastruktur vital mereka.
Selain itu, mereka sangat mencemaskan dampak jatuhnya proyektil atau konsekuensi konflik lainnya yang bisa masuk ke dalam wilayah kedaulatan mereka sendiri.
Sumber WSJ menyebutkan bahwa Arab Saudi, Qatar, dan Oman secara tegas menyampaikan kepada AS bahwa upaya apa pun untuk meruntuhkan sistem pemerintahan Iran hanya akan mengguncang pasar minyak secara ekstrem. Hal ini pada akhirnya diprediksi justru akan memukul balik ekonomi AS sendiri melalui lonjakan harga komoditas dan inflasi global.
"Pejabat Arab Saudi menegaskan posisi mereka kepada Teheran bahwa Riyadh akan tetap netral dalam potensi konflik ini. Untuk menghindari tarikan konfrontasi yang dipimpin AS, Riyadh menyatakan tidak akan membiarkan wilayah udara mereka digunakan oleh militer AS untuk melancarkan serangan udara ke wilayah Iran," tutur sumber tersebut, yang juga dikutip Middle East Monitor, Kamis (15/1/2026).
Selain urusan ekonomi, negara-negara Teluk juga memperingatkan Washington agar tidak mengejar agenda perubahan rezim di Teheran. Menurut laporan tersebut, langkah untuk menggulingkan kekuasaan di Iran dianggap sebagai langkah berbahaya yang bisa mendestabilisasi kawasan secara permanen dan memicu konflik berkepanjangan yang tidak terkendali.
(tps/luc)