Internasional

Trump Beri Sinyal Serang Iran, Minta Demonstan Rebut Pemerintahan

Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
Rabu, 14/01/2026 07:10 WIB
Foto: Presiden AS Donald Trump membuat pengumuman tentang "Armada Emas" Angkatan Laut, sementara Menteri Luar Negeri Marco Rubio mendengarkan, di Mar-a-lago di Palm Beach, Florida, AS, 22 Desember 2025. (REUTERS/Jessica Koscielniak)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terbuka menyerukan kepada para pengunjuk rasa di Iran untuk mengambil alih lembaga-lembaga negara. Dalam pernyataan yang bernada ancaman, Trump juga menjanjikan bantuan AS serta konsekuensi berat bagi pejabat Iran yang dianggap melakukan pelanggaran.

Dalam pidatonya di Detroit Economic Club pada Selasa (13/1/2026) waktu setempat, yang juga diunggah melalui platform Truth Social, Trump memberikan dukungan penuh kepada gerakan massa di Iran.

"Semua patriot Iran, teruslah memprotes. Ambil alih institusi-institusi kalian jika memungkinkan. Dan simpan nama-nama pembunuh serta penyiksa yang menyiksa kalian," ujar Trump dikutip Russia Today. Ia menegaskan bahwa mereka yang bertanggung jawab akan "membayar harga yang sangat mahal."


Gelombang protes di Iran sendiri dipicu oleh anjloknya nilai tukar mata uang nasional sejak akhir Desember lalu. Laporan mengenai jumlah korban jiwa masih simpang siur; media Barat dan kelompok aktivis mengklaim ribuan orang tewas, sementara laporan resmi sejauh ini mencatat angka ratusan. Trump menyatakan pihaknya masih memverifikasi data tersebut sebelum menentukan langkah respons lebih lanjut.

Saat dikonfirmasi mengenai bentuk bantuan yang ia janjikan, Trump memberikan jawaban luas yang mengarah pada isolasi ekonomi terhadap Teheran.

"Ada banyak bantuan dalam berbagai bentuk, termasuk bantuan ekonomi dari sudut pandang kami yang tidak akan banyak membantu (pemerintah) Iran," kata Trump dalam wawancara dengan CBS News, merujuk pada penerapan tarif baru bagi negara mana pun yang nekat berbisnis dengan Iran.

Lebih jauh, Trump tidak menutup kemungkinan adanya tindakan militer. Ia mencontohkan rekam jejak kebijakan luar negerinya di masa lalu, seperti intervensi di Venezuela serta eliminasi pemimpin ISIS al-Baghdadi dan Jenderal Iran Qasem Soleimani.

"Tujuan akhirnya adalah menang. Saya suka menang," tegasnya.

Pemerintah Iran bereaksi keras dengan menuduh AS dan Israel berada di balik kerusuhan tersebut. Teheran menyebut situasi saat ini sebagai "perang teroris" yang didukung asing. Pihak berwenang Iran juga memperingatkan akan menargetkan pasukan AS di Timur Tengah jika Washington mencoba melakukan intervensi fisik.

Di sisi lain, sekutu Iran, Rusia, mengecam keras pernyataan Trump. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menuding Barat sedang mencoba menghancurkan negara Iran melalui skenario "revolusi warna" dengan memanfaatkan krisis ekonomi yang justru disebabkan oleh sanksi AS.

Menyusul eskalasi ini, Departemen Luar Negeri AS pada Senin telah mengeluarkan peringatan tingkat tinggi bagi warga negaranya yang berada di Iran untuk segera meninggalkan negara tersebut. Langkah ini kemudian diikuti oleh negara-negara lain seperti Kanada, Australia, Jerman, dan Prancis, merujuk pada risiko penahanan sewenang-wenang dan potensi eskalasi konflik yang mendadak.


(tps/tps)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Trump Peringatkan Iran Soal Militer, Isyaratkan Tindakan Cepat