Bank Sentral Global Solid Bela Ketua The Fed, Lawan 'Premanisme' Trump
Jakarta, CNBC Indonesia - Bank sentral utama dari berbagai belahan dunia merilis pernyataan bersama untuk memberikan "solidaritas penuh" kepada Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell. Langkah ini diambil menyusul ancaman terbaru terhadap independensi bank sentral Amerika Serikat (AS) yang datang langsung dari pemerintahan Donald Trump.
Pernyataan bersejarah ini ditandatangani oleh sembilan gubernur bank sentral kelas kakap, termasuk Gubernur Bank of England Andrew Bailey dan Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde. Aksi ini dikoordinasikan oleh Bank for International Settlements (BIS) yang berbasis di Basel, Swiss.
Selain mereka, bos bank sentral dari Australia, Swedia, Denmark, Swiss, Brasil, Korea Selatan, Kanada, hingga Norwegia juga turut membubuhkan tanda tangan mereka. Mereka memuji integritas Powell dan menyebutnya sebagai rekan yang sangat dihormati.
"Independensi bank sentral adalah landasan stabilitas harga, keuangan, dan ekonomi demi kepentingan warga negara yang kami layani. Oleh karena itu, sangat penting untuk menjaga independensi tersebut, dengan menghormati supremasi hukum dan akuntabilitas demokrasi," bunyi pernyataan resmi tersebut, dikutip Rabu (14/1/2026).
Ketegangan antara Trump dan Powell sebenarnya sudah lama mendidih. Trump berulang kali menyerang Powell, yang ia tunjuk sendiri pada 2018, karena dianggap tidak cukup cepat memangkas suku bunga. Trump bahkan pernah menghina Powell dengan sebutan "si bodoh" (numbskull).
Namun, situasi memanas drastis pekan ini. Powell secara terbuka menyatakan bahwa dirinya sedang menjadi sasaran investigasi kriminal oleh Departemen Kehakiman (DoJ) AS. Powell menyebut tindakan ini sebagai upaya intimidasi yang belum pernah terjadi sebelumnya terkait kebijakan moneter.
"Saya ditekan karena The Fed menetapkan suku bunga berdasarkan penilaian terbaik kami untuk kepentingan publik, bukan mengikuti preferensi Presiden," tegas Powell dalam sebuah pernyataan video yang menggegerkan pasar.
Di sisi lain, Jaksa Agung Distrik Columbia yang pro-Trump, Jeanine Pirro, mengklaim bahwa investigasi tersebut berkaitan dengan dugaan "penyalahgunaan uang pembayar pajak" terkait renovasi kantor pusat The Fed yang menelan biaya besar. Pirro bersikeras bahwa proses hukum ini bukanlah ancaman bagi Powell.
Meski begitu, Trump mencoba cuci tangan dengan mengaku tidak tahu-menahu soal penyelidikan tersebut. Sementara itu, laporan Bloomberg menyebutkan bahwa Pirro meluncurkan tindakan hukum ini tanpa persetujuan atasannya di DoJ, namun ia tidak berniat menghentikannya.
"Saya tidak tahu apa-apa tentang itu," ujar Trump kepada NBC News.
Risiko Krisis Ekonomi Global
Para mantan Ketua The Fed, yakni Alan Greenspan, Ben Bernanke, dan Janet Yellen, turut mengecam keras tekanan terhadap Powell. Mereka memperingatkan bahwa merusak independensi bank sentral bisa berdampak fatal bagi ekonomi AS.
"Beginilah cara kebijakan moneter dibuat di pasar negara berkembang dengan institusi yang lemah. Ini akan berdampak sangat negatif pada inflasi dan fungsi ekonomi secara luas," tulis mereka dalam pernyataan bersama.
Konflik ini juga mulai merembet ke ranah politik. Senator Republik, Thom Tillis, menyatakan tidak akan memberikan konfirmasi kepada calon pengganti Powell (yang masa jabatannya habis Mei mendatang) sampai masalah hukum ini selesai.
(tps/tps)