Sempat Tergelincir, Kini Ekonomi RI Menatap Kebangkitan

Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
Senin, 12/01/2026 16:10 WIB
Foto: Suasana gedung bertingkat di Jakarta, Selasa (27/8/2019). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Arah ekonomi Indonesia telah menunjukkan sinyal positif setelah sempat mengalami pelemahan pada awal hingga pertengahan 2025. Hal ini ditekankan dalam laporan Outlook 2026 Danantara Indonesia.

Laporan yang disusun oleh tim ekonom dan riset perusahaan Danantara ini, mengungkapkan pada awal 2025, ekonomi Indonesia menghadapi beragam guncangan, baik dari eksternal maupun domestik. Guncangan datang dari penyesuaian kebijakan perdagangan internasional dan dari dalam negeri ada periode konsolidasi dengan kebijakan fiskal serta likuiditas yang lebih ketat dalam sistem keuangan.


"Hal ini menyebabkan pendinginan kredit dari tingkat pertumbuhan dua digit sebelumnya, dan akhirnya pengurangan konsumsi rumah tangga yang berlanjut hingga kuartal ketiga," tulis Danantara, dikutip Senin (12/1/2026).

Setelahnya, tanda-tanda keadaan membaik pun muncul. Pertama, belanja konsumen kembali meningkat pesat, dengan sentimen pulih hampir ke tingkat tertinggi sebelumnya.

Mandiri Spending Index menunjukkan tren penguatan, berada di posisi 354,5 per 28 November 2025. Peningkatan konsumen ini diikuti oleh peningkatan prospek pekerjaan, yang membalikkan kehilangan pekerjaan yang sebelumnya banyak diberitakan, khususnya di sektor manufaktur.

Selain itu, posisi manufaktur yang berada di zona ekspansi juga dinilai Danantara sebagai kunci pemulihan di akhir 2025. Pemulihan pada fase awal juga didorong oleh permintaan ekspor yang tinggi, ekspansi yang lebih baru jelas didorong oleh pesanan domestik. Faktor-faktor tersebut yang kemudian menjadi pijakan dalam kebangkitan ekonomi 2026.

"Apa yang kita saksikan, kemudian, adalah siklus pertumbuhan yang baik, di mana produksi yang lebih banyak menghasilkan lebih banyak lapangan kerja dan lebih banyak permintaan, yang pada gilirannya mendorong produksi yang lebih besar lagi. Momentum positif ini memberikan dasar yang kuat untuk ekspansi berkelanjutan pada tahun 2026," tulis Danantara.

"Jika tahun 2025 membuktikan bahwa Indonesia mempertahankan tingkat pertumbuhan PDB yang tinggi, maka tahun 2026 akan menguji seberapa tinggi pertumbuhan ini dapat meningkat," sambung Danantara.

Sovereign Wealth Fund Indonesia tersebut menilai kebijakan fiskal mungkin menawarkan sisi positif yang paling nyata dengan arah pro-growth dan fokus pada penghapusan hambatan administratif untuk mempercepat pencairan fiskal.

Misalnya saja pada program prioritas Makanan Bergizi Gratis (MBG) dengan peningkatan pesat pembukaan stasiun makanan dalam beberapa bulan terakhir.dapat memastikan pencairan fiskal yang lebih cepat dan pendorong sisi permintaan yang lebih konsisten untuk perekonomian pada 2026. Sementara dari sisi moneter, dampak kebijakan penurunan suku bunga 125 basis poin pada 2025 akan lebih terasa pada 2026.

"Pemotongan sebelumnya-sebanyak 125 bps pada tahun 2025-seharusnya mulai berdampak pada ekspansi kredit selama beberapa kuartal mendatang. Permintaan pinjaman modal kerja, khususnya, diperkirakan akan pulih seiring dengan aktivitas bisnis yang diperbarui dan biaya operasional terkait," ucap Danantara.


(haa/haa)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Pembangunan Huntara di Aceh Tamiang Terus Dikebut