Bulog Mau Digitalisasi Cash & Carry Gabah Petani, Amran Nasihat Begini
Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengungkapkan langkah konkret yang dilakukan Bulog untuk menutup celah penyimpangan di lapangan. Kuncinya ada pada digitalisasi, mulai dari proses pembelian gabah hingga sistem pembayaran langsung ke petani.
Dalam praktiknya, kata Rizal, Bulog membeli gabah langsung dari petani dengan harga yang sudah ditetapkan. Proses penimbangan dan pembayaran dilakukan di lokasi panen.
"Jadi contoh si petani A punya 10 hektare, 10 hektare dipanen dengan harga Rp6.500 per kilogram di sawah. Setelah dipanen, itu ditimbang langsung berapa timbangannya, dibayar di situ. Itu cash and carry," kata Rizal dalam konferensi pers di Kantor Pusat Bulog, Jakarta, pekan lalu.
Namun ke depan, sistem pembayaran tunai tersebut akan diubah. Bulog tengah menyiapkan transformasi besar dengan mengalihkan seluruh pembayaran ke sistem digital mulai 2026.
"Jadi kami sedang kembangkan dananya itu by digital. Untuk 2026, kami sedang kembangkan Bulog itu pembayarannya tidak menggunakan uang tunai, tapi kami menggunakan uang digital," tegas dia.
Ia menuturkan, petani diharapkan memiliki rekening bank agar transaksi bisa langsung ditransfer. Menurutnya, digitalisasi pembayaran memiliki banyak manfaat, baik dari sisi keamanan maupun transparansi.
"Teman-teman petani harapannya sudah punya nomor rekening. Tujuannya, pertama, biar aman, tidak ada rampok dan lain sebagainya. Kalau bawa uang banyak ratusan juta bahaya juga kan," tuturnya.
Selain faktor keamanan, sistem digital juga mendorong kebiasaan menabung sekaligus mempercepat pencatatan transaksi.
"Yang kedua, petani juga bisa nabung. Yang ketiga, pencatatannya jadi lebih cepat, lebih mudah, begitu klik, itu langsung terdata sampai pusat, berapa jumlah nominal yang akan diserap hari ini bahkan per detik itu bisa terlihat," lanjut Rizal.
Yang paling penting, menurutnya, digitalisasi menjadi instrumen pengawasan untuk menekan potensi korupsi di internal Bulog.
"Keempat adalah upaya untuk meminimalisir korupsi. Korupsi bisa aja anak-anak Bulog yang di lapangan juga ada yang nakal juga. Ini supaya tidak nakal kami buat nanti pembayarannya dengan digital, sehingga tidak ada lagi ruang-ruang untuk berbuat yang aneh-aneh di lapangan," tegasnya.
Amran Ingatkan Potensi Risiko
Hanya saja, dalam kesempatan hari ini, Senin (12/1/2025) di kantornya, Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengingatkan potensi risiko di balik digitalisasi.
Amran mengatakan mendukung rencana Bulog yang akan menerapkan digitalisasi dalam proses penyerapan gabah. Namun menekankan agar tidak sepenuhnya bergantung pada sistem digital. Menurutnya, skema pembayaran tetap perlu dikombinasikan dengan mekanisme lain untuk menghindari kendala di lapangan.
"Bagus, tapi tidak boleh digitalisasi semua, kombinasi, karena kenapa? Mengantisipasi. Jangan sampai ini macet, ah, kacau perkara kita," kata Amran.
[Gambas:Video CNBC]