Foto Internasional

Potret 'Kiamat' Baru Guncang Argentina, 15.000 Hektar Hangus Terbakars

Reuters, CNBC Indonesia
Senin, 12/01/2026 11:00 WIB

Sebanyak 15.000 hektar lahan telah terkena dampak kebakaran hutan di Epuyen, provinsi Chubut, Patagonia, Argentina.

1/6 Kebakaran hutan meluas di Patagonia, Argentina. (REUTERS/Matias Garay)

Kebakaran hutan di Argentina selatan telah menghanguskan lebih dari 15.000 hektar minggu ini. Meskipun demikian hujan mulai turun di beberapa bagian Patagonia pada hari Minggu dan melegakan warga.(REUTERS/Matias Garay)

2/6 Kebakaran hutan meluas di Patagonia, Argentina. (REUTERS/Matias Garay)

Kebakaran terbesar, yang terjadi sejak Senin lalu di dekat kota kecil Epuyen di Andes, telah menghanguskan sekitar 11.980 hektar, kata dinas pemadam kebakaran provinsi Chubut dalam sebuah pernyataan. Kebakaran lain dengan ukuran yang tidak ditentukan terjadi di dekatnya di Taman Nasional Los Alerces.(REUTERS/Matias Garay)

3/6 Kebakaran hutan meluas di Patagonia, Argentina. (REUTERS/Matias Garay)

Petugas pemadam kebakaran juga berjuang untuk mengendalikan dua kebakaran lainnya di Chubut dan provinsi Santa Cruz yang berdekatan, yang telah membakar sekitar 3.800 hektar. (REUTERS/Matias Garay)

4/6 Kebakaran hutan meluas di Patagonia, Argentina. (REUTERS/Matias Garay)

Nampak sebuah mobil hangus akibat terdampak kebakaran hutan tersebut. Mengutip AFP, Senin (12/1/2026), sekitar 3.000 wisatawan telah dievakuasi dari daerah tersebut dalam beberapa hari terakhir, dan setidaknya 10 rumah telah hancur akibat kebakaran. (REUTERS/Matias Garay)

5/6 Kebakaran hutan meluas di Patagonia, Argentina. (REUTERS/Matias Garay)

Lebih dari 500 petugas pemadam kebakaran, penyelamat, polisi, dan personel pendukung berupaya memadamkan api, sementara puluhan warga setempat mendukung operasi di garis depan. (REUTERS/Matias Garay)

6/6 Kebakaran hutan meluas di Patagonia, Argentina. (REUTERS/Matias Garay)

Gubernur Chubut, Ignacio Torres, mengatakan dalam sebuah wawancara radio bahwa situasi di daerah tersebut "lebih tenang" pada Minggu pagi tetapi "tetap sangat kritis".
Torres mendesak masyarakat untuk "jangan pernah lagi meremehkan implikasi perubahan iklim" dan menekankan bahwa provinsi tersebut mengalami "kekeringan terburuk sejak 1965." (REUTERS/Matias Garay)