Gunung Sampah Longsor, 1 Orang Tewas-38 Hilang Tertimbun
Jakarta, CNBC Indonesia - Upaya pencarian dan penyelamatan terus dilakukan pada Jumat (9/1/2026) setelah tumpukan sampah raksasa di sebuah tempat pembuangan akhir (TPA) di Filipina tengah runtuh dan menimbun puluhan pekerja. Insiden di TPA Binaliw, Cebu City, itu menewaskan sedikitnya satu orang dan memunculkan kembali kekhawatiran lama soal keselamatan pengelolaan limbah di negara tersebut.
Setidaknya 38 pekerja hilang tertimbun ketika gunungan sampah yang menjulang tinggi tiba-tiba ambruk pada Kamis di TPA Binaliw, fasilitas milik swasta yang beroperasi di wilayah pusat Filipina. Hingga Jumat, petugas penyelamat masih menyisir area longsoran, dengan kekhawatiran bahwa masih banyak korban yang terperangkap di bawah timbunan sampah.
"Itu setinggi kira-kira empat lantai," kata Jason Morata, asisten pejabat informasi publik Kota Cebu, menggambarkan besarnya tumpukan sampah yang runtuh, dilansir AFP.
Pemerintah kota menyatakan sedikitnya 12 pekerja berhasil ditarik keluar dalam kondisi hidup dan dilarikan ke rumah sakit. Informasi itu disampaikan melalui pernyataan di halaman Facebook resmi Wali Kota Cebu City, Nestor Archival.
Dalam pernyataannya, Archival mengatakan tim penyelamat "terlibat penuh dalam upaya pencarian dan evakuasi untuk menemukan para korban yang masih hilang."
Foto-foto udara yang dirilis kepolisian memperlihatkan sejumlah bangunan yang tampak hancur dan tertekan oleh beratnya timbunan sampah. Morata menjelaskan bahwa bangunan-bangunan tersebut digunakan sebagai "kantor perusahaan, bagian SDM, administrasi, serta staf pemeliharaan" milik perusahaan swasta yang mengelola lokasi pembuangan tersebut.
Penyebab pasti runtuhnya gunungan sampah itu belum diketahui. Morata mengatakan pihak berwenang tengah mempertimbangkan sejumlah faktor yang mungkin berkontribusi pada insiden tersebut.
"Kami sedang mempertimbangkan beberapa faktor. Jika Anda ingat, Cebu dilanda dua topan pada paruh akhir 2025 dan juga gempa bumi," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa proses pengumpulan informasi berjalan lambat karena keterbatasan komunikasi di lokasi kejadian. "Informasi datang sedikit demi sedikit karena tidak ada sinyal di lokasi TPA," kata Morata.
Menurut situs resmi operator TPA, Prime Integrated Waste Solutions, fasilitas Binaliw memproses sekitar 1.000 ton sampah padat perkotaan setiap hari.
Pernyataan berbeda datang dari pihak kepolisian setempat. "Kami tidak tahu apa yang menyebabkan runtuhnya tumpukan itu. Saat kejadian sama sekali tidak hujan," kata Marge Parcotello, staf sipil di departemen kepolisian Consolacion, sebuah kota yang berbatasan langsung dengan lokasi TPA.
Parcotello menambahkan bahwa banyak korban berasal dari Consolacion. "Banyak dari para korban berasal dari Consolacion," katanya.
(luc/luc)