Bos Toyota Ingatkan Pelajaran dari Insentif Mobil Listrik Vs Hybrid
Jakarta, CNBC Indonesia - Pelaku industri otomotif menekankan arah pengembangan industri otomotif nasional ke depan tak bisa dilepaskan dari investasi teknologi yang lebih ramah lingkungan. Menurutnya, transformasi ini menjadi kunci agar Indonesia tetap relevan dalam peta industri otomotif global.
"Secara teknologi kita berharap ke depan itu ada investasi, kemudian juga berkembang industri otomotif yang bisa menurunkan emisi. Kemudian juga meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar Seperti hybrid, kemudian plug-in hybrid, termasuk BEV juga," kata Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam dalam TMMIN Media Gathering di Bandung, Jumat (9/1/2025).
Dorongan teknologi tersebut tetap harus dihitung secara rasional dari sisi ekonomi. Perhitungan biaya dan manfaat menjadi krusial agar kebijakan insentif tidak justru membebani negara tanpa hasil yang sepadan. Pasalnya, insentif yang diberikan pemerintah diklaim lebih besar dari pendapatan yang diterima.
"Tapi kita harus hitung cost and benefitnya. Untuk mobil listrik kan sekarang pemerintah mengucurkan Rp13 triliun insentif, meng-create revenue Rp2 triliun. Jadi bersih 11 triliun itu pemerintah mengeluarkan insentif. Untuk hybrid pemerintah mengalokasikan Rp400 miliar, tapi kita bisa meng-create Rp6 triliun. Jadi sebenarnya even dikasih relaksasi oleh pemerintah, tapi revenue yang diperoleh lebih besar lagi," ujarnya.
Dari perbandingan tersebut, Bob melihat adanya peluang kebijakan yang lebih efektif jika pemerintah konsisten mendukung teknologi tertentu. Ia menilai keberlanjutan insentif juga akan menentukan arah transformasi industri sekaligus kekuatan Indonesia di pasar ekspor.
"Jadi melihat pertimbangan ini kita berharap bahwa insentif untuk hybrid ini bisa terus dilanjutkan supaya ada transformasi teknologi. Kemudian juga kita lihat pasar ekspor otomotif ke depan ini akan didominasi oleh elektrifikasi terutama hybrid," sebut Bob.
Selain elektrifikasi, Bob turut menyoroti potensi teknologi lain yang berkembang pesat secara global. Ia menilai Indonesia perlu cepat beradaptasi agar tidak tertinggal dari negara-negara yang lebih agresif mengembangkan teknologi kendaraan terbaru.
"Nah kemudian yang kedua juga fleksifuel. Jadi penggunaan bahan bakar dengan campuran etanol ini sudah menjadi fenomena di beberapa negara termasuk di US, di India, kemudian juga di Amerika Selatan apalagi. Jadi teknologi yang bisa meng-adopt fleksifuel ini juga kita berharap bisa diberikan insentif supaya Indonesia tetap bisa menjadi basis produksi, basis ekspor kendaraan-kendaraan dengan teknologi terbaru," ujarnya.
(dce)