MARKET DATA

Tunggu Tanggal Mainnya! Perjanjian RI-AS Bisa Bikin Iri Negara Lain

Robertus Andrianto,  CNBC Indonesia
07 January 2026 18:35
Presiden AS Donald Trump (kanan) dan Presiden Indonesia Prabowo Subianto berpose saat pertemuan puncak tentang Gaza di Sharm el-Sheikh pada 13 Oktober 2025. (Photo by Yoan VALAT / POOL / AFP)
Foto: Presiden AS Donald Trump (kanan) dan Presiden Indonesia Prabowo Subianto berpose saat pertemuan puncak tentang Gaza di Sharm el-Sheikh pada 13 Oktober 2025. (AFP/YOAN VALAT)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perjanjian dagang antara Indonesia dengan Amerika Serikat terkait tarif resiprokal berpotensi membuat iri negara-negara lain.

Hal ini diungkapkan oleh Direktur Eksekutif CSIS Yose Rizal Damuri saat acara Media Briefing: "Outlook 2026: Ancaman dan Risiko Instabilitas Ekonomi, Sosial, dan Politik" pada Rabu (7/1/2026).

"Adanya kemungkinan tekanan dari negara-negara lain, partner-partner lain yang juga menginginkan apa yang diberikan kepada Amerika Serikat. Kenapa Amerika Serikat diberikan, sementara kalau kita tidak," ujarnya.

Ia menyoroti adanya perjanjian-perjanjian eksklusif yang diberikan kepada Amerika Serikat dan sebaliknya. Seperti diketahui, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bahwa AS meminta akses ke mineral kritis Indonesia. Dalam perundingan tersebut, Indonesia memperoleh pengecualian tarif resiprokal untuk sejumlah komoditas unggulan seperti sawit, kopi/kakao, dan teh.

Sebagai imbalannya, Amerika Serikat mengharapkan keterbukaan akses terhadap mineral kritis yang dimiliki Indonesia. Pola ini menunjukkan adanya barter kepentingan: produk agrikultur ditukar dengan sumber daya strategis masa depan.

Yose mengatakan ada potensi negara-negara di China dan Eropa akan menuntut perlakuan-perlakuan yang sama seperti Indonesia ke AS.

"Misalnya dengan Tiongkok kita sudah punya perjanjian ASEAN-Cina dan salah satunya mengenai Indonesia juga di sana dan itu tentunya bisa menjadi dasar bahwa harus ada juga perlakuan-perlakuan yang sama kepada Tiongkok tadi," terangnya.

"Atau kepada Uni Eropa yang baru saja kita selesaikan, yang selama 10 tahun kita jalankan perjanjian atau negosiasi tersebut, tapi ternyata Amerika Serikat yang hanya 6 bulan dapatnya jauh lebih baik dari mereka," sambungnya.

Yose pun mengatakan bahwa tidak menutup kemungkinan negara-negara lain akan melakukan retaliasi kepada Indonesia.

"Dan di sini kadang-kadang bahkan ini bisa menyebabkan retaliasi dari negara-negara lain tersebut. Bukan hanya mereka meminta yang sama, tetapi juga menginginkan melakukan retaliasi karena menganggap berbagai hal-hal yang dilakukan oleh Indonesia yang diberikan kepada Amerika Serikat tersebut akan merugikan mereka."

Hal seperti ini ujungnya akan merugikan Indonesia karena dapat mengganggu stabilitas perdagangan internasional Indonesia hingga pertumbuhan ekonomi.

"Hal-hal tersebut tentunya bisa mengganggu stabilitas, terutama dari sisi perdagangan Indonesia yang semakin hari juga semakin menjadi sumber pertumbuhan yang penting di perekonomian Indonesia ini." pungkasnya.

(haa/haa)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Ditanya Kabar Terbaru Negosiasi Tarif Trump, Begini Jawaban Mendag


Most Popular
Features