MARKET DATA
INTERNASIONAL

Trump Salah Besar, Raksasa Migas AS Ogah Garap Minyak Venezuela

sef,  CNBC Indonesia
06 January 2026 16:55
FILE PHOTO: An oilfield worker walks next to drilling rigs at an oil well operated by Venezuela's state oil company PDVSA, in the oil rich Orinoco belt, near Morichal at the state of Monagas April 16, 2015. Picture taken on April 16, 2015. REUTERS/Carlos Garcia Rawlins/File Photo
Foto: REUTERS/Carlos Garcia Rawlins

Jakarta, CNBC Indonesia - Mimpi Donald Trump mengambil minyak Venezuela untuk perusahaan Amerika Serikat (AS) mungkin belum akan terpenuhi. Mengutip CNN International, sumber industri mengungkap bahwa sejumlah perusahaan minyak raksasa Paman Sam sepertinya enggan berinvestasi di negeri itu.

Ini sekaligus membantah pernyataan pejabat AS yang mengatakan bahwa "semua perusahaan minyak mereka siap dan bersedia melakukan investasi besar di Venezuela untuk membangun kembali infrastruktur minyak". Sebelumnya dikatakan pula bahwa perusahaan minyak Amerika akan melakukan "pekerjaan luar biasa untuk rakyat Venezuela"

Sejumlah alasan menjadi dasar mengapa kemungkinan besar mereka tidak akan langsung terjun ke Venezuela. Mulai dari situasi di lapangan masih sangat tidak pasti, industri minyak Venezuela yang berada dalam keadaan kacau, dan Caracas memiliki sejarah menyita aset minyak AS.

Harga minyak saat ini yang terlalu rendah juga membuat perusahaan harus merencanakan matang pengeluarannya. Untuk menghidupkan kembali industri minyak Venezuela, diyakini dibutuhkan dana yang sangat besar, bahkan puluhan miliar dolar AS.

"Keinginan untuk terjun ke Venezuela saat ini cukup rendah. Kita tidak tahu seperti apa pemerintahan di sana nantinya," kata seorang sumber industri, dikutip Selasa (6/1/2026).

"Keinginan presiden berbeda dengan keinginan industri. Dan Gedung Putih akan mengetahui hal itu jika mereka berkomunikasi dengan industri sebelum operasi pada hari Sabtu," tambahnya menyebut serangan ke Venezuela yang berlangsung 3 Januari tersebut.

Venezuela memang memiliki cadangan minyak terbukti terbesar dunia, 330 miliar barel. Ini lebih banyak dari Arab Saudi, Iran, Irak, bahkan Rusia dan AS.

Namun, ketika perusahaan minyak memutuskan untuk berinvestasi dalam proyek pengeboran yang jauh, mereka membutuhkan keyakinan tentang "seperti apa lingkungan operasi di sana" bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun ke depan. Saat ini, sumber industri minyak AS mengatakan, sulit untuk merasa yakin tentang bentuk pemerintahan dan institusi Venezuela dalam beberapa minggu ke depan, apalagi bertahun-tahun mendatang.

"Hanya karena ada cadangan minyak- bahkan yang terbesar di dunia- bukan berarti Anda pasti akan memproduksinya di sana," kata sumber industri lainnya..

"Ini bukan seperti mendirikan usaha truk makanan," tambahnya.

Sumber ini pun mengatakan pemerintahan Trump mengutamakan "retorika daripada kenyataan". Mereka menekankan bahwa stabilitas politik adalah "yang terpenting" ketika perusahaan mempertimbangkan investasi di luar negeri.

Venezuela Bangkrut dan Investasi yang Boncos

Karena bertahun-tahun kurangnya investasi, krisis ekonomi, dan pengasingan internasiona (termasuk sanksi), infrastruktur minyak Venezuela dalam keadaan rusak. Bahkan negara itu tak memiliki uang untuk membenahi minyaknya sendiri.

"Venezuela bangkrut," kata mantan ketua Citgo yang lahir dan dibesarkan di Venezuela, Luisa Palacios, masih dimuat laman yang sama.

"Tidak punya uang. Perusahaan minyak nasional berantakan. Hampir tidak mampu memberi makan rakyatnya," tambahnya.

Dalam studinya, perusahaan konsultan Rystad Energy mengatakan untuk mempertahankan produksi minyak Venezuela tetap stabil di angka 1,1 juta barel per hari, negeri itu membutuhkan investasi sekitar US$53 miliar (Rp 888 triliun) selama 15 tahun ke depan. Namun, untuk mengembalikan Venezuela ke masa kejayaannya dengan produksi 3 juta barel per hari pada akhir tahun 1990-an, total pengeluaran modal untuk minyak dan gas perlu mencapai angka yang mengejutkan, yaitu US$183 miliar hingga tahun 2040.

Angka fantastis itu tidak hanya mencerminkan infrastruktur Venezuela yang sudah tua. Tetapi juga fakta bahwa sebagian besar minyaknya dianggap "berat" merujuk ke campuran minyak mentah yang lebih sulit dan lebih mahal untuk dimurnikan serta diproses daripada minyak yang AS miliki seperti di Texas.

Harga minyak sekitar US$60 tidak akan mendorong investasi. Apalagi harga murah saat ini.

(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Trump Diam-Diam Deklarasi 'Perang', 5 Jet Tempur AS Dekati Negara Ini


Most Popular
Features