RI & AS Bahas Finalisasi Perjanjian Dagang Minggu Depan
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa perjanjian dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat memasuki tahap akhir.
Hal ini diungkapkan olehnya saat rapat terbatas bersama menteri lain yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresiden RI pada Senin (5/1/2026).
Airlangga mengatakan rapat terbatas tersebut membahas perkembangan perjanjian hingga kondisi ekonomi saat ini
"Tadi kita bahas kondisi ekonomi makro juga progres perundingan AS mungkin yang lain nunggu besok karena besok ada retreat," ucapnya saat ditemui di komplek istana kepresidenan dikutip Selasa (6/1/2026).
Berdasarkan pantauan, ratas berlangsung lebih dari dua jam dan juga dihadiri oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, dan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Pengelola Investasi Danantara Rosan Perkasa Roeslani.
Airlangga menjelaskan bahwa pembahasan perjanjian perdagangan tersebut sudah memasuki tahap final, yakni penyusunan dan pengecekan draf perjanjian secara detail.
Pembahasan lanjutan pun antara pemerintah RI dengan AS untuk membahas detail pada 12-19 Januari 2026 di Washington DC.
"Itu 12- 19. Itu legal drafting detail," ucapnya.
Selain itu, Airlangga juga memastikan bahwa hasil perundingan dengan AS akan ditandatangani oleh Prabowo dan Donald Trump.
Seperti diketahui AS menerapkan tarif dagan resiprokal kepada puluhan negara di dunia, termasuk Indonesia.
Airlangga dan United States Trade Representative (USTR) Ambassador Jamieson Greer pada Senin (22/12/2025) di Washington D.C. telah menuntaskan perundingan lanjutan tarif resiprokal yang mulanya dikenakan Presiden AS Donald Trump ke Indonesia sebesar 32% menjadi 19%.
Airlangga mengatakan, dalam negosiasi itu Indonesia menyatakan komitmen untuk memberikan akses pasar untuk produk AS, mengatasi kendala isu-isu hambatan non tarif, kerja sama dalam perdagangan digital dan teknologi, keamanan nasional, dan juga kerja sama komersial.
Sedangkan AS berkomitmen untuk memberikan pengecualian tarif bagi produk-produk ekspor unggulan Indonesia yang tidak bisa diproduksi oleh AS seperti minyak kelapa sawit, cocoa, kopi, hingga teh.
"Kuncinya adalah balance. Kita sampaikan mana isu-isu yang menjadi concern utama kepentingan Indonesia. Begitu juga sebaliknya, kita dengarkan pandangan dari AS. Kita cari jalan tengahnya," ungkap Airlangga dikutip Senin (6/1/2026).
(ras/mij)