MARKET DATA
Internasional

Update Terkini Invasi AS ke Venezuela, Pemerintah Baru-Dakwaan Maduro

luc,  CNBC Indonesia
05 January 2026 05:34
FILE PHOTO: U.S. President Donald Trump speaks as Secretary of State Marco Rubio and Secretary of Defense Pete Hegseth look on during a press conference following a U.S. strike on Venezuela where President Nicolas Maduro and his wife, Cilia Flores, were captured, from Trump's Mar-a-Lago club in Palm Beach, Florida, U.S., January 3, 2026. REUTERS/Jonathan Ernst/File Photo
Foto: REUTERS/Jonathan Ernst
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela masih membayangi kawasan Karibia, meski prospek Washington mengambil alih kendali langsung atas negara Amerika Selatan itu tampak mereda pada Minggu (4/1/2026), sehari setelah penangkapan mengejutkan Presiden Nicolas Maduro. Namun, pejabat AS menegaskan bahwa mereka tetap menempatkan sekitar 15.000 personel di kawasan Karibia dan membuka kemungkinan intervensi militer lanjutan jika Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, tidak memenuhi tuntutan Washington.

Rodríguez di depan publik mempertahankan sikap menantang, tetapi isi pembicaraan tertutup yang ia lakukan dengan para pejabat Amerika Serikat belum sepenuhnya terungkap. Setelah penangkapan Maduro pada Sabtu, Presiden AS Donald Trump sempat menyatakan bahwa Amerika Serikat akan "menjalankan" Venezuela, negara berpenduduk sekitar 30 juta jiwa.

Pada Minggu, Trump kembali melontarkan peringatan keras kepada Rodríguez. "Jika dia tidak melakukan apa yang benar, dia akan membayar harga yang sangat mahal, mungkin lebih besar daripada Maduro," kata Trump dalam wawancara dengan majalah The Atlantic.

Rodríguez sebelumnya menyatakan kesetiaan kepada Maduro dan mengecam penangkapannya sebagai sebuah "kekejaman".

Namun, laporan New York Times menyebutkan bahwa beberapa pekan sebelumnya para pejabat pemerintahan Trump telah mengidentifikasi Rodríguez sebagai calon penerus potensial sekaligus mitra bisnis, sebagian karena hubungannya dengan Wall Street dan perusahaan-perusahaan minyak.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio disebut telah berbicara langsung dengan Rodríguez. Trump mengeklaim bahwa Rodríguez mengatakan kepada Rubio, "'kami akan melakukan apa pun yang Anda butuhkan'".

"Menurut saya, dia cukup ramah, tetapi sebenarnya dia tidak punya banyak pilihan," ujar Trump, dilansir The Guardian.

Di Caracas, sejumlah pejabat tinggi pemerintah dan militer menuntut agar Maduro dipulangkan, tetapi pada saat yang sama menyatakan dukungan kepada Rodríguez sebagai pemimpin sementara dan menyerukan kembalinya aktivitas normal.

Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino López dalam pidato yang disiarkan televisi meminta warga kembali menjalani kehidupan sehari-hari.

"Saya menyerukan kepada rakyat Venezuela untuk kembali menjalankan aktivitas mereka dalam berbagai bidang, ekonomi, pekerjaan, dan pendidikan, dalam beberapa hari ke depan," kata Padrino López.

Pendudukan Venezuela

Sementara itu, dalam sejumlah wawancara televisi, Rubio berusaha meredam spekulasi soal invasi atau pendudukan Venezuela.

"Ini bukan perang. Maksud saya, kami berperang melawan organisasi perdagangan narkoba, bukan perang melawan Venezuela. Kami tidak memiliki pasukan AS di darat," katanya kepada NBC.

Rubio menjelaskan bahwa pasukan AS berada di Caracas selama dua jam dalam sebuah "fungsi penegakan hukum" yang tidak memerlukan persetujuan Kongres. "Ini bukan invasi. Ini bukan operasi militer berkepanjangan," ujarnya.

AS, lanjut Rubio, akan mempertahankan "karantina" terhadap Venezuela untuk memblokir keluar-masuk kapal tanker minyak yang terkena sanksi AS, guna menjaga "daya tekan" terhadap penerus Maduro.

"Kami akan menilai berdasarkan apa yang mereka lakukan, bukan apa yang mereka katakan di depan publik," katanya.

Rubio menambahkan bahwa Washington memiliki "berbagai tuas pengaruh" untuk merespons jika para pemimpin Venezuela tidak mengambil keputusan yang dianggap "benar". Ia juga menyebut pemerintah Kuba, sekutu utama Venezuela, sebagai "masalah besar" yang sedang berada dalam "kesulitan serius", meski enggan merinci lebih lanjut.

Senator Republik Tom Cotton dari Arkansas, yang menjabat ketua Komite Intelijen Senat, juga melunakkan pernyataan Trump tentang menjalankan Venezuela. Ia mengatakan masih ada "banyak pertanyaan yang perlu dijawab" mengenai langkah selanjutnya.

Respons Dunia

Reaksi internasional bermunculan. Pemerintah Spanyol, Brasil, Cile, Kolombia, Meksiko, dan Uruguay dalam pernyataan bersama menyebut tindakan AS "merupakan preseden yang sangat berbahaya bagi perdamaian dan keamanan regional serta membahayakan penduduk sipil".

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan negaranya tidak terlibat dalam serangan tersebut, tetapi menolak untuk mengecamnya.

Seluruh negara Uni Eropa, kecuali Hungaria, mengeluarkan pernyataan yang menyerukan penahanan diri oleh "semua pihak" dan penghormatan terhadap kehendak rakyat Venezuela demi "memulihkan demokrasi".

Kekhawatiran juga meluas ke Kolombia. Presiden Gustavo Petro memerintahkan pengerahan 30.000 tentara ke perbatasan timur dengan Venezuela, mengantisipasi potensi kekerasan atau gelombang pengungsi.

Dakwaan Maduro

Gedung Putih merilis rekaman Maduro dalam kondisi diborgol saat digiring ke kantor Badan Penegakan Narkoba AS (DEA) di New York sebelum dibawa ke Metropolitan Detention Center di Brooklyn. Otoritas AS juga membuka dakwaan empat poin yang menuduh Maduro melakukan narkoterorisme dan konspirasi impor kokain.

Dakwaan itu juga menjerat Flores, putra mereka, dua pejabat Venezuela, serta seorang pemimpin geng Tren de Aragua yang oleh pemerintahan Trump ditetapkan sebagai organisasi teroris. Maduro dijadwalkan menjalani sidang pendahuluan di pengadilan federal Manhattan pada Senin.

Proses hukum tersebut memperdalam rasa terhina di kalangan loyalis Maduro dan memperumit posisi Rodríguez. Mantan wakil presiden dan menteri minyak itu kini harus menyeimbangkan tuntutan Washington terkait minyak dan jaminan keamanan dengan rezim yang masih menyisakan warisan sosialisme dan antiimperialisme ala Hugo Chávez.

Menteri Dalam Negeri yang berpengaruh, Diosdado Cabello, menyatakan kesetiaan kepada Maduro, namun secara implisit mendukung presiden sementara. "Di sini, persatuan kekuatan revolusioner lebih dari terjamin," katanya dalam pesan audio yang dirilis partai berkuasa PSUV.

Sikap pemerintahan Trump yang tampak puas dengan perubahan rezim terbatas, bukan pergantian rezim total, mengecewakan sebagian warga Venezuela yang berharap kejatuhan Maduro membuka jalan bagi demokrasi.

Trump bersikap meremehkan pemimpin oposisi María Corina Machado, peraih Nobel Perdamaian yang menggerakkan kampanye presiden Edmundo González tahun lalu, dengan mengatakan ia tidak memiliki "dukungan" di Venezuela.

Rubio mengatakan Amerika Serikat menginginkan transisi menuju demokrasi, tetapi menutup kemungkinan pemilu dalam waktu dekat. Ia menegaskan bahwa para pemimpin militer dan kepolisian Venezuela harus menentukan arah mereka.

"Kami berharap mereka memilih arah yang berbeda dari yang dipilih Nicolás Maduro. Pada akhirnya kami berharap ini mengarah pada transisi yang menyeluruh," ujarnya.

 

(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Invasi AS Dimulai! Kapal Perang Mengepung, Presiden Ini Tak Gentar


Most Popular
Features