MARKET DATA

Strategi Andalan Jadi Senjata Makan Tuan Buat Starbucks

mkh,  CNBC Indonesia
03 January 2026 06:00
A pedestrian walks past a logo outside of one of the 8,000 Starbucks-owned American stores that will close around 2 p.m. local time on Tuesday as a first step in training 175,000 employees on racial tolerance in the Brooklyn borough of New York, U.S., May 29, 2018.  REUTERS/Lucas Jackson
Foto: REUTERS/Lucas Jackson

Jakarta, CNBC Indonesia — Starbucks tengah melakukan penutupan ratusan gerai di kota-kota besar Amerika Serikat. Langkah ini diambil seiring melemahnya kinerja gerai perkotaan yang selama bertahun-tahun menjadi tulang punggung ekspansi perusahaan.

Starbucks menutup sekitar 400 gerai yang terkonsentrasi di wilayah metropolitan sebagai bagian dari rencana restrukturisasi senilai US$1 miliar. Di New York, perusahaan menutup 42 gerai atau sekitar 12% dari total gerainya di kota tersebut. Penutupan juga terjadi di sejumlah kota besar lain seperti Los Angeles, Chicago, San Francisco, Minneapolis, dan Baltimore.

Mengutip CNN.com, Sabtu (3/1/2026), penutupan gerai tersebut menandai perubahan strategi Starbucks yang sebelumnya agresif memperluas jaringan di pusat kota. Model ekspansi yang mengandalkan tingginya mobilitas pekerja kantoran kini dinilai kurang efektif di tengah meningkatnya persaingan dengan kedai kopi yang lebih kecil, perubahan pola kerja jarak jauh, serta tingginya biaya operasional di kawasan urban.

Starbucks menyebut penutupan dilakukan setelah meninjau lebih dari 18.000 gerai di Amerika Serikat dan Kanada. Perusahaan menutup lokasi yang dinilai berkinerja rendah atau tidak lagi memenuhi standar merek. Meski demikian, Starbucks tetap berencana membuka dan merenovasi sejumlah gerai pada 2026, termasuk di kota-kota besar, dengan desain baru dan peningkatan pengalaman pelanggan.

Selain tekanan persaingan dari kedai kopi lokal dan jaringan minuman lainnya, penurunan jumlah pekerja yang beraktivitas di pusat bisnis setelah pandemi turut memengaruhi lalu lintas pelanggan. Sejumlah gerai yang berada di gedung perkantoran di pusat kota pun terdampak langsung oleh berkurangnya aktivitas tersebut.

Di sisi lain, Starbucks juga mengubah kebijakan operasionalnya di gerai perkotaan. Perusahaan mengakhiri kebijakan yang memungkinkan pengunjung menggunakan fasilitas gerai tanpa melakukan pembelian, seiring meningkatnya tantangan keamanan dan kenyamanan di beberapa lokasi.

Ke depan, Starbucks akan lebih memfokuskan ekspansi ke kawasan pinggiran kota dengan pengembangan gerai drive-thru, yang dinilai memiliki biaya operasional lebih rendah. Perusahaan juga menargetkan renovasi sekitar 1.000 gerai di Amerika Serikat untuk kembali memperkuat konsep Starbucks sebagai "third place" atau ruang antara rumah dan tempat kerja.

(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Domino's Pizza Tutup Ratusan Gerai, Rugi Rp56,8 Miliar


Most Popular
Features