Udang di Banten-Lampung Tak Laku-Harga Anjlok Buntut Kasus Radioaktif

Martyasari Rizky, CNBC Indonesia
Jumat, 29/08/2025 20:15 WIB
Foto: CNBC INDONESIA

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Umum Shrimp Club Indonesia (SCI) Andi Tamsil mengungkapkan, udang dari Banten dan Lampung yang biasanya diserap eksportir besar kini menumpuk tanpa pembeli. Menyusul larangan oleh Amerika Serikat (AS) terhadap udang beku impor asal Indonesia.

Buntut temuan FDA AS yang menyebut udang beku asal perusahaan RI,  PT Bahari Makmur Sejati (BMS), diduga terpapar zat radioaktif Cesium-137, penarikan dari ritel dan konsumen di negara tersebut diberlakukan sejak sekitar 2 pekan lalu.

Menurut Andi Tamsil, BMS yang tercatat sebagai eksportir sekaligus pembeli udang terbesar di Indonesia bahkan Asia Tenggara, kini tidak bisa melakukan ekspor ke AS. Dampaknya, BMS pun menghentikan pembelian udang dari petambak.


"Ketika ada kasus seperti ini, kan PT BMS itu kan sementara ditahan tidak boleh mengekspor udang sampai kasus ini jelas. Nah karena PT BMS itu tidak bisa mengekspor udang, artinya PT BMS itu kan tidak membeli udang. Nah sehingga di beberapa tempat itu, (termasuk) Banten dan di Lampung, kebetulan juga sekarang ini ada petambak kita yang lagi panen. Karena BMS tidak membeli, berarti kan memang udang itu kan tidak terbeli," jelas Andi kepada CNBC Indonesia, Jumat (29/8/2025).

Ia menegaskan, kondisi ini benar-benar membuat penyerapan udang di Lampung dan Banten terhenti. "Sehingga ketika PT BMS itu tidak membeli udang, berarti yang di Lampung dan Banten tidak terserap. Jadi betul informasi itu," tegasnya.

Harga Udang Turun Drastis

Imbas dari penghentian pembelian PT BMS juga terlihat pada harga. Andi menyebut harga udang di tingkat petambak anjlok hingga Rp10 ribu per kilogram.

"Sejak BMS itu tidak membeli, harga sudah turun, ada yang sampai Rp10.000 per kilo, sudah turun, harga itu turun, sudah 2-3 kali turun. Jadi harga dari sebelumnya itu dengan sekarang sudah turun Rp10.000-Rp12.000. Jadi kalau misalnya yang lalu harganya Rp70.000 per kg, sekarang mungkin Rp58.000 atau Rp60.000 per kg," katanya.

Ia pun meminta pihak lain yang masih bisa membeli udang tidak memanfaatkan situasi untuk menekan harga lebih rendah. "Jangan menekan harga, mentang-mentang PT BMS tidak membeli, kemudian ada yang membeli, yang membeli itu jangan menekan harga. Dan jangan membatasi pembelian, kalau ada teman-teman kita petambak udang yang sedang panen, ya tolonglah dibeli, karena kalau tidak dibeli, udang kita kan bisa rusak," tegas dia.

Sejalan dengan itu, Andi mengatakan pihaknya juga telah menghimbau para petambak agar menunda panen bila kondisi tidak mendesak. Hal ini demi menghindari kerugian lebih besar.

"Sehingga kita juga minta kepada teman-teman petambak, kalau udang itu masih bisa ditahan, ditahan dulu, jangan dipanen dulu. Tunggu lah situasi semakin membaik, karena kalau sekarang ini kan pasti harga turun nih sekarang," ujar Andi.

Menurutnya, persoalan utama bukan pada kualitas udang Indonesia secara umum, melainkan kasus khusus yang menimpa PT BMS. "Padahal menurut kami, udang kita yang bersoal di Amerika bukan soal harga, tapi ini kan soal kandungan radioaktif yang tidak diperbolehkan," tegasnya.

Seperti diketahui, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) beberapa waktu lalu mengumumkan penarikan udang beku dari Indonesia yang dipasarkan dengan merek Great Value di Walmart. Hasil investigasi FDA menunjukkan kontainer udang milik PT BMS Foods terdeteksi mengandung isotop Cesium-137.

Di dalam negeri, Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK) telah menurunkan tim untuk menyelidiki sumber kontaminasi. Kepala Biro Hukum, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik Bapeten, Ishak, menyebut paparan radiasi ditemukan di area pengumpulan besi bekas dekat pabrik PT BMS.

"Penyelidikan menemukan adanya material logam yang terindikasi mengandung zat radioaktif Cs-137," ujar Ishak.

Bapeten bersama kepolisian kini memperluas pemantauan radiasi hingga radius dua kilometer dari lokasi temuan, sekaligus mengamankan area tersebut.

Sementara itu, Shrimp Club Indonesia (SCI) berharap pemerintah bisa segera menuntaskan masalah ini agar ekspor udang Indonesia kembali berjalan normal.

"Kita minta pemerintah betul-betul lebih tegas, agar udang kita itu tidak terkontaminasi, lakukan pemeriksaan yang sebaik-baiknya," tutup Andi.


(dce)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Banten Kebut Program Unggulan, Sekolah Gratis Hingga Bang Andra