Internasional

China Genjot Reklamasi di Depan Halaman RI, Jadi Pangkalan Militer

Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
29 August 2025 20:30
This handout photo taken on February 21, 2023 and received from the National Task Force for the West Philippine Sea (NTF-WPS) on February 22 shows suspected Chinese maritime militia vessels anchored off a disputed shoal in the Spratly Island group in the South China Sea. - China claims sovereignty over almost the entire South China Sea, through which trillions of dollars in trade passes annually, and has ignored an international court ruling that its claims have no legal basis. (Photo by Handout / National Task Force for the West Philippine Sea / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT
Foto: Kepulauan Spratly di Laut China Selatan. (AFP/HANDOUT)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah laporan yang disusun dari rekaman citra satelit selama satu dekade yang dihimpun oleh Newsweek menunjukkan bagaimana China mengubah Karang Mischief, yang merupakan atol di kepulauan Spratly yang disengketakan, menjadi pos militer besar. Pangkalan militer ini sebanding dengan sebuah kapal induk yang tidak bisa ditenggelamkan.

Awalnya, Karang Mischief hanya sebuah atol dataran rendah sebelum China memulai reklamasi lahan di sekitarnya pada tahun 1990-an dan menyelesaikannya pada tahun 2015. Selama 10 tahun berikutnya, Beijing mengubah bentang alam buatan ini menjadi pangkalan militer terbesarnya di area tersebut.

Karang Mischief terletak sekitar 240 km di sebelah barat Palawan, sebuah provinsi kepulauan utama di Filipina, dan sekitar 965 km dari Hainan, pulau paling selatan China. Area ini berada di dalam zona ekonomi eksklusif Filipina, di mana berdasarkan hukum maritim internasional, Filipina berhak penuh atas sumber daya alamnya.

China mulai menduduki Karang Mischief pada tahun 1994 dengan klaim awal bahwa area tersebut digunakan untuk mendukung para nelayan China. Meskipun Presiden China Xi Jinping telah berjanji kepada Presiden AS saat itu, Barack Obama, untuk tidak memiliterisasi pos-pos terluarnya, analis telah mengidentifikasi berbagai infrastruktur militer di karang tersebut, termasuk landasan pacu sepanjang 3 km, helipad, hanggar jet tempur, sistem rudal jelajah antikapal, dan penempatan radar canggih.

China telah melengkapi Karang Mischief dan setidaknya dua fitur lainnya, yang dikenal sebagai Karang Subi dan Karang Fiery Cross, dengan infrastruktur militer, mulai dari landasan pacu hingga peluncur rudal. Hal ini meningkatkan kemampuan Tentara Pembebasan Rakyat untuk memproyeksikan kekuatan di wilayah tersebut dan meningkatkan ketegangan dengan Filipina, sekutu perjanjian pertahanan Amerika Serikat.

"Kepulauan Nansha (Spratly) adalah wilayah China yang melekat, dan China dengan tegas menentang aktivitas konstruksi negara-negara terkait di pulau-pulau dan karang-karang yang diduduki secara ilegal dan akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga kedaulatan wilayah dan hak-hak maritimnya," kata Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun.

Hal ini sendiri dilakukan saat China mengklaim kedaulatan atas lebih dari 80% Laut Cina Selatan, jalur air yang kaya energi di mana US$5 triliun (Rp75.000 triliun) perdagangan mengalir setiap tahunnya.

Klaim-klaim tersebut meluas hingga ke Kepulauan Spratly, di mana kapal-kapal keruk China telah menciptakan lebih dari 3.000 acre lahan baru di tujuh karang. Kepulauan ini juga diklaim-seluruhnya atau sebagian-oleh Vietnam, Filipina, Malaysia, Taiwan, dan Brunei.

Di sisi lain, Filipina di bawah Presiden Ferdinand Marcos Jr. telah meningkatkan perlawanannya terhadap kehadiran China di zona tersebut. Manila juga terus memperkuat koordinasi pertahanan dengan Amerika Serikat serta mitra-mitra lain di kawasan.

"Saya hanya mengenang kembali tahun 1995 di sebuah tempat bernama Karang Mischief. Ada beberapa struktur bambu yang didirikan di sana. Dan China mengatakan bahwa ini adalah 'tempat berlindung sementara bagi nelayan.' Sekarang Anda memiliki pulau-pulau militer buatan-yang sangat termiliterisasi," kata Menteri Pertahanan Filipina, Gilberto Teodoro.


(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Perang Gaza OTW Berakhir, Trump Mulai Damaikan Israel-Hamas

Tags

Related Articles
Recommendation
Most Popular