Ekonom Wanti-Wanti Ekonomi RI Bisa di Bawah 5% di Kuartal III

Arrijal Rachman , CNBC Indonesia
29 August 2025 06:55
Kawasan SCBD. (Dok. scbd.com)
Foto: Ilustrasi gedung bertingkat di Jakarta. (Dok. scbd.com)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2025 berpotensi melambat di bawah laju kuartal II-2025 yang dicatat oleh Badan Pusat Statistik (BPS) mampu mencapai 5,12% secara tahunan atau year on year.

Kepala Departemen Riset Ekonomi Makro dan Pasar Keuangan Bank Mandiri, Dian Ayu Yustina mengatakan, prospek laju pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2025 hanya akan tumbuh di kisaran 4,9%-5%.

"Jadi, kami melihat kuartal III, hitungan kami ya, pertumbuhan ekonomi mungkin bisa mencapai di kisaran 4,9-5%. Ini sedikit melandai memang dibandingkan kuartal sebelumnya," kata Dian dalam acara Mandiri Macro and Market Brief 3Q25 Indonesia Economic Outlook, Kamis (28/8/2025).

Melandainya laju pertumbuhan ekonomi tersebut disebabkan sudah habis nya faktor musiman yang bisa mendongkrak laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari 50% terhadap pertumbuhan ekonomi.

"Karena katalis periode libur, hari raya, itu sudah berlangsung di Q1 dan Q2, kemudian tidak terlalu banyak faktor seperti long weekend yang akan ada juga di Q3, mungkin pertumbuhan konsumsi akan melambat sedikit ke arah 4,9%," papar Dian.

Selain dari konsumsi rumah tangga yang mulai melemah, Dian mengatakan, ekspor juga berpotensi mulai tertekan pada kuartal III, imbas dari mulai berlakunya tarif resiprokal Presiden AS Donald Trump mulai 7 Agustus 2025.

Tarif perdagangan tinggi yang dikenakan terhadap mitra-mitra dagang AS, termasuk Indonesia, itu bisa melemahkan aktivitas perdagangan global. Indonesia terkena beban tarif resiprokal sebesar 19%.

Sementara itu, faktor yang berpotensi menjaga tren pertumbuhan di level 5% kata Dian adalah percepatan realisasi belanja negara melalui APBN pada semester II-2025. Belanja pemerintah itu bisa menstimulus konsumsi rumah tangga, maupun investasi.

"Tentunya realisasi belanja pemerintah ini harusnya bisa mendorong permintaan domestik ya, misalnya melalui bantuan sosial, melalui program-program, realisasi program-program, dan juga proyek-proyek infrastruktur, jadi di situ katalisnya menurut kami ya," ucap Dian.

Di sisi lain, suku bunga BI rate yang dipangkas ke level 5% pada Agustus 2025 ia anggap juga berpotensi menjadi sinyal positif untuk mendukung konsumsi rumah tangga ke depan. Namun, Dian menekankan, biasanya transmisi kebijakan suku bunga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berjalan lambat.

"Memang kalau penurunan BI rate, kita memang melihat masih butuh waktu untuk tertransmisi ke suku bunga lainnya, seperti suku bunga kredit. Namun memang di sisi lain, penurunan BI rate ini memberi semacam sinyal positif atau persepsi positif terhadap perekonomian ke depan, artinya akan ada potensi perbaikan ekonomi ke depan," ungkap Dian.


(arj/haa)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Ekonomi RI Kuartal I: Belanja Pemerintah Seret, Swasta Ikut-ikutan

Tags

Related Articles
Recommendation
Most Popular