Internasional

Waduh! Bentrok di LCS, Militer China & AS Saling Memaki

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
30 November 2022 13:22
Rudal China Yuncheng meluncurkan rudal anti-kapal selama latihan militer di perairan dekat Pulau Hainan dan Kepulauan Paracel, China selatan. AP/Zha Chunming Foto: Rudal China Yuncheng meluncurkan rudal anti-kapal selama latihan militer di perairan dekat Pulau Hainan dan Kepulauan Paracel, China selatan. AP/Zha Chunming

Jakarta, CNBC Indonesia - Militer Amerika Serikat (AS) dan China saling melontarkan kata-kata kasar saat bertemu di Laut China Selatan (LCS) pada Selasa (29/11/2022). Ini merupakan pertemuan kedua negara sejak para pemimpin bertemu.

Saat itu kapal perang Angkatan Laut AS tengah melakukan operasi kebebasan navigasi (FONOP) pertamanya. Namun, militer China mengeklaim USS Chancellorsville, kapal penjelajah berpeluru kendali AS, secara ilegal memasuki perairan dekat Kepulauan Nansha China dan terumbu karang tanpa persetujuan dari pemerintah China.

"Langkah tersebut menunjukkan AS benar-benar penghasil risiko keamanan di Laut China Selatan," kata Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China dalam sebuah pernyataan yang dikutip CNN International.

Juru bicara Komando Teater Selatan Kolonel Tian Junli mengatakan PLA mengatur angkatan laut dan udara untuk mengikuti, memantau, memperingatkan, dan akhirnya mengusir kapal perang AS.

China mengatakan tindakan militer AS ini secara serius melanggar kedaulatan dan keamanan negaranya. "Ini merupakan bukti kuat bahwa AS mencari hegemoni maritim dan memiliterisasi Laut China Selatan," menurut pernyataan di akun resmi Weibo-nya.

Di sisi lain, sebuah pernyataan dari Armada ke-7 Angkatan Laut AS pada Selasa malam menyebut PLA salah dan pernyataan keliru yang terus berlanjut atas tindakan AS di Laut China Selatan.

"Kapal penjelajah AS melakukan FONOP sesuai dengan hukum internasional dan kemudian melanjutkan operasi normal di perairan di mana kebebasan laut lepas berlaku," kata Angkatan Laut AS dalam pernyataannya.

"Perilaku RRC berlawanan dengan kepatuhan Amerika Serikat terhadap hukum internasional dan visi kami untuk kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka. Semua negara, besar dan kecil, harus aman dalam kedaulatannya, bebas dari paksaan, dan mampu mengejar pertumbuhan ekonomi yang konsisten dengan aturan dan norma internasional yang diterima," tambah pernyataan AS.

Pertemuan itu adalah yang pertama di Laut China Selatan sejak Presiden AS Joe Biden dan pemimpin China Xi Jinping bertemu langsung di sela-sela KTT G20 di Indonesia dua pekan lalu.

Setelah pertemuan itu, Biden mengatakan dia dan Xi membuat kemajuan dalam meredakan ketegangan di beberapa daerah tetapi tidak berhasil menyelesaikan serangkaian masalah yang telah membantu mendorong hubungan AS-China ke titik terendah dalam beberapa dekade terakhir.

Dalam kesempatan tersebut, Biden juga mengatakan menyampaikan terkait FONOP kepada Xi pada pertemuan mereka. FONOP hari Selasa adalah indikasi awal Biden tidak mengingkari janji itu.

Adapun, China selama ini sudah mengeklaim hampir seluruh wilayah LCS, yakni sekitar 90% yang meliputi area seluas sekitar 1,3 juta mil persegi, dengan konsep sembilan garis putus-putus (nine-dash line). Ini termasuk sebagian besar pulau di dalamnya, termasuk Kepulauan Nansha, yang dikenal di luar China sebagai Kepulauan Spratly.

Klaim teritorial sepihak tersebut tumpang tindih dengan klaim beberapa negara ASEAN dan Taiwan. Selain dengan China, LCS sendiri berbatasan dengan Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Taiwan, Thailand, dan Vietnam.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ini Penampakan Jelas "Kerajaan" Militer China di Dekat RI


(luc/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading