Sri Mulyani Nyalakan Alarm Ekonomi RI, Ada Apa?

News - Tim Redaksi, CNBC Indonesia
25 November 2022 07:30
Konferensi pers hasil rapat berkala KSSK IV tahun 2022. (Tangkapan layar Youtube Kemenkeu RI) Foto: Konferensi pers hasil rapat berkala KSSK IV tahun 2022. (Tangkapan layar Youtube Kemenkeu RI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ekonomi global mulai diwarnai dengan perlambatan. Bahkan, beberapa negara maju yang merupakan partner dagang Indonesia mulai dibayangi resesi.

Sejalan dengan itu, kondisi ekonomi China dibayangi oleh kegelapan setelah angka Covid-19 melonjak dan memaksa Negeri Tirai Bambu tersebut melakukan lockdown.

Efek global ini suka tidak suka mempengaruhi kondisi ekonomi Indonesia. Terbukti, indeks Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia sudah mengalami kontraksi dalam dua bulan terakhir.

Hal ini disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi APBN Kita, Kamis (24/11/2022).

Dia mengungkapkan pemerintah mulai mewaspadai kondisi sektor manufaktur di Indonesia setelah Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia mengalami kontraksi dua bulan terakhir.

"Yang perlu kita lihat dan waspada adalah PMI Manufaktur kita. Selama 14 bulan ini ada di level ekspansif, namun di bulan terakhir adanya penurunan. Ini yang harus kita waspadai, karena menyangkut manufaktur yang penting," jelas Sri Mulyani.

PMI Indonesia pada Agustus 2022 mencapai 5,17, kemudian pada September, PMI manufaktur Indonesia mencapai 53,7. Namun pada Oktober 2022, PMI manufaktur turun menjadi 51,8.

Meskipun kontraksi, Sri Mulyani mencatat kapasitas produksi mengalami peningkatan dan mendekat level sebelum pandemi. "Sektor manufaktur sebetulnya terus meningkatkan kegiatan, hingga kapasitas produksi sama seperti sebelum pandemi," ujarnya.

Kendati demikian, melihat PMI manufaktur Indonesia, Sri Mulyani ragu prospek level tersebut bertahan dalam menghadapi gejolak perekonomian ke depan.

"Melihat level ini bisa dan harus bertahan di dalam menghadapi guncangan-guncangan global. Ini menjadi tantangan kita memasuki tahun 2023," kata Sri Mulyani.

Berbicara arah ke depan, kata Sri Mulyani, pasti akan ada pengaruh faktor global yang harus diwaspadai. Meskipun pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dalam level yang kuat, namun tetap waspada.

"Waspada karena melihat direction atau arahnya perlu kita waspadai," tegas Sri Mulyani.

Di sisi dunia, Menteri Keuangan memaparkan perkembangan terkini dari perekonomian global dan dalam negeri. Situasi global masih dihadapkan oleh tingginya ketidakpastian ke depan.

"Volatilitas dan harga komoditas masih menjadi faktor yang mendominasi perekonomian-perekonomian di seluruh dunia, karena dia bisa mempengaruhi tingkat harga umum atau inflasi," ungkapnya.

Sri Mulyani menjelaskan harga komoditas mulai terkoreksi dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini cukup mampu meredam tingginya inflasi di banyak negara.

"Harga-harga komoditas masih mengalami volatilitas namun kecenderungan mulai terjadi koreksi karena dengan kenaikan harga yang tinggi yang terjemahannya adalah inflasi banyak negara yang kemudian mengalami pelemahan dan itu terwujud dengan permintaan melemah," paparnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

'Mesin' Mulai Panas, Ekonomi RI Bakal Ngegas


(haa/haa)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading