Sri Mulyani Mulai Cemas, Setoran Pajak Landai di Akhir Tahun

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
24 November 2022 17:55
Sri Mulyani dalam acara perayaan hari pajak. (Tangkapan layar Youtube Direktorat Jenderal Pajak) Foto: Sri Mulyani dalam acara perayaan hari pajak. (Tangkapan layar Youtube Direktorat Jenderal Pajak)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, hingga Oktober 2022, penerimaan pajak mencapai Rp 1.448,17 triliun atau telah mencapai 97,5% dari target di dalam Perpres 98 yang sebesar Rp 1.485 triliun.

Sri Mulyani menjelaskan realisasi penerimaan pajak yang mencapai Rp 1.448,2 triliun tersebut tumbuh 51,8% dibandingkan dengan periode Januari-Oktober 2021 yang hanya mencapai Rp 953,8 triliun.

Realisasi penerimaan pajak pada periode Januari-Oktober 2022 terdiri dari PPh Non Migas yang mencapai Rp 784,4 triliun atau terealisasi 103,7% dari target.

Kemudian PPN dan PPnBM yang sudah mencapai Rp 569,7 triliun atau sudah mencapai 89,2% dari target, PPh Migas sudah berhasil terkumpul sebanyak Rp 67,9 triliun atau telah mencapai 105,1% dari target. Serta PBB dan pajak lainnya sudah terealisasi Rp 26 triliun atau 80,6% dari target.

Kendati demikian, jika dilihat pertumbuhannya secara bulanan, Sri Mulyani mulai khawatir karena pertumbuhan penerimaan pajak mulai melandai, jika dilihat secara bulanan.

Kinerja bulanan menunjukkan pertumbuhan pajak yang mengalami normalisasi. Di mana, pertumbuhan pajak pada Oktober 32,7%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan September yang mencapai 27,6%.

Namun pertumbuhan pajak pada September dan Oktober tersebut sangat rendah dibandingkan pertumbuhan penerimaan pajak pada bulan Juni-Agustus yang rata-rata pertumbuhannya mencapai 54% hingga 58%.

"Growth bulanan sudah menunjukkan agak melandai. Kalau tadi growth-nya overall headline-nya di atas 50% secara tahunan, tapi secara bulanan menggambarkan kembali ke level yang tidak setinggi seperti headline-nya, yaitu 27% hingga 32%," jelas Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita, Kamis (24/11/2022).

"Tren ini yang harus kita lihat, karena tahun ini basisnya sangat tinggi. Tahun ini harus meng-adjust level of growth," kata Sri Mulyani lagi.

Pun peningkatan pertumbuhan pajak pada Oktober, disebabkan adanya pembayaran kompensasi BBM, tanpa ini pertumbuhan penerimaan pajak hanya 20%.

Sri Mulyani memperkirakan tren perlambatan pertumbuhan penerimaan pajak akan berlanjut hingga akhir 2022. Sejalan dengan meningkatnya restitusi dan tingginya basis penerimaan di akhir tahun 2021.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ketiban Durian Runtuh, Setoran Pajak 2022 Bakal Lewati Target


(haa/haa)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading