Negara G20 Berlomba Naikkan Suku Bunga, Siapa Paling Agresif?

News - Anisa Sopiah, CNBC Indonesia
24 November 2022 13:35
Konferensi Pers: APBN KITA November 2022. (Tangkapan layar Youtube Ministry of Finance Republic of Indonesia) Foto: Konferensi Pers: APBN KITA November 2022. (Tangkapan layar Youtube Ministry of Finance Republic of Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kenaikan suku bunga acuan di negara maju dan berkembang masih berlangsung. Negara-negara G20 memerangi tekanan inflasi dengan berlomba menaikkan suku bunga acuannya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menuturkan Inggris telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 275 basis points (bps), Amerika Serikat sebesar 375 bps dan Eropa 200 bps sepanjang 2022.

"Ini maish jauh di bahwa headline inflation yang terjadi seperti yang dilihat di dalam layar ini," papar Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTa Oktober 2022, Kamis (24/11/2022).

Menurut Sri Mulyani, negara-negara emerging yang dulu secara tradisional memiliki inflasi tinggi seperti Brazil semua mengalami agresi dan menaikkan suku bunga.

Bahkan, Brazil suku bunganya telah mencapai 13,75%. Dari kenaikan ini, Sri Mulyani melihat tekanan inflasi mulai menurun.

Namun, dia melihat hal yg penting adalah bagaimana menurunkan inflasi tanpa menganggu perekonomian secara drastis.

"Ini yang sedang dihadapi oleh seluruh policy makers di dunia," katanya.

Adapun, Bank Indonesia (BI) telah mulai menaikkan suku bunga sudah 175 bps.

"Itu inflasi kita ada di 5,7% kalau dilihat level headline inflation Indonesia masih relatif lebih rendah namun kita juga harus hati-hati," kata Sri Mulyani.

Untuk China, dimana tingkat suku bunga masih flat di 3,65%. Inflasi China relatif sangat rendah ini mungkin juga karena kegiatan ekonmi Tiongkok masih terkendala.

Hal ini karena adanya kebijakan zero Covid. Selain China, Jepang juga belum agresif melakukan kenaikan suku bunga.

Seperti diketahui, Jepang selalu dilanda deflasi secara akut dan panjang. Alhasil, inflasi buat Jepang akan diharapkan bisa menjadi relatif stabil karena untuk memerangi deflasi selama hampir satu dekade.

"Jadi Jepang mungkin agak exception di dalam konteks keseluruhan perekonomian negara-negara maju," ungkapnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Saat Sri Mulyani Ngobrol Bareng Menkeu China, Bahas Apa ya?


(haa/haa)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading