Internasional

6 Fakta Pemilu Malaysia: Siapa PM hingga Raja Turun Tangan

News - sef, CNBC Indonesia
24 November 2022 08:04
Pemimpin oposisi Malaysia Anwar Ibrahim memberikan suara selama pemilihan umum di Permatang Pauh, Penang, Malaysia, Sabtu (19/11/2022). Pemilu di Malaysia menggunakan sistem first past the post di mana partai atau koalisi yang berhasil mengantongi 112 dari total 222 kursi di parlemen akan membentuk pemerintahan. (REUTERS/Hasnoor Hussain) Foto: Pemimpin oposisi Malaysia Anwar Ibrahim memberikan suara selama pemilihan umum di Permatang Pauh, Penang, Malaysia, Sabtu (19/11/2022). Pemilu di Malaysia menggunakan sistem first past the post di mana partai atau koalisi yang berhasil mengantongi 112 dari total 222 kursi di parlemen akan membentuk pemerintahan. (REUTERS/Hasnoor Hussain)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemilihan Perdana Menteri (PM) baru Malaysia masih memanas. Siapa yang akan menjadi pemimpin pemerintah di negeri tersebut masih belum jelas.

Meski pemilu sudah dilakukan sejak Sabtu lalu, hingga hari ke-5 ini belum ada keputusan crucial yang dibuat. Raja Malaysia Al-Sultan Abdullah Sultan Ahmad Shah pun dilaporkan turun tandan.

Lalu apa saja fakta-fakta pentingnya? Berikat dirangkum CNBC Indonesia dari sejumlah sumber, Kamis (24/11/2022).

1.Tak Ada Pemenang Pemilu Mayoritas

Sulitnya penentuan PM baru Malaysia terjadi karena pertama kali dalam sejarah, pemilu menghasilkan parlemen menggantung. Tak ada satu partai pun yang mendapat suara mayoritas di parlemen.

Koalisi Pakatan Harapan (PH) yang dipimpin oleh Anwar Ibrahim memenangkan 82 kursi. Partainya masih membutuhkan ukungan dari 30 anggota parlemen lagi untuk mengamankan 112 kursi.

Di sisi lain, saingannya, koalisi Perikatan Nasional (PN) yang dipimpin oleh mantan PM Muhyiddin Yassin, memenangkan 73 kursi. Sementara koalisi Barisan Nasional (BN), yang didominasi oleh UMNO, di urutan ketiga dengan 30 kursi.

2.Tak Mau Berkoalisi dengan Anwar

Sementara itu, meski memiliki suara dominan, tak ada yang mau berkoalisi dengan Anwar Ibrahim. Baik Muhyiddin dan UMNO menolaknya.

PN dilaporkan melakukan lobi politik ke sejumlah partai lainnya. PM saat ini Ismail Sabri mengumumkan di Twitter bahwa Barisan Nasional tidak akan bergabung dengan koalisi apa pun dan tetap menjadi oposisi.

3.Saling Klaim

Sementara itu, Anwar Ibrahim mengklaim telah mendapat dukungan yang cukup untuk membentuk pemerintahan, namun dia tidak memberikan rincian lebih lanjut. Begitu pula Muhyiddin Yassin yang mengungkapkan klaim serupa.

4.Mahathir Kalah Telak

Sementara itu, Mahathir Mohamad menerima kekalahan telak. Partai yang mengusungnya Pejuang Tanah Air berada di posisi buncit.

"Pejuang Tanah Air yang mengganti Gerakan Tanah Air (nama parati sebelumnya) kalah dalam PRU (pemilu) ke-15," tulisnya melalui akun @chedetofficial, di Twitter, dikutip CNBC Indonesia.

"Saya sebagai ketua Pejuang sedih. Tetapi saya terima pilihan rakyat," ujarnya.

Ia pun berharap partai yang menang akan segera bisa membentuk pemerintahan baru. Ia pun berdoa agar negaranya pulih, tidak siapa pun yang menjadi PM-nya.

"Saya akan fokus menulis tentang sejarah dan kegiatan di tanah air," tambah pria 97 tahun itu.

5.Raja "Turun Gunung"

Sementara itu, Raja Malaysia Al-Sultan Abdullah Sultan Ahmad Shah dilaporkan akan mengadakan pertemuan darurat dengan sembilan sultan penguasa di negara itu hari ini Kamis.

"Raja akan akan bertemu sesama penguasa pada pertemuan khusus di Istana Negara besok (24 November)," tulis media Malaysia, The Star, kemarin.

"Dipahami bahwa Yang Mulia akan meminta pendapat para penguasa tentang kebuntuan dalam pembentukan pemerintahan federal," tambahnya.

Pertemuan akan berlangsung 10.30 waktu setempat. Kemungkinan waktu pembicaraan selama tiga jam.

Belum diketahui apakah nama PM baru akan segera diumumkan. Beberapa calon telah dipanggil ke instant.

6.Polisi Antisipasi Chaos

Aparat kepolisian di Malaysia dilaporkan menjaga ketat wilayah-wilayah strategis di negeri itu. Penghalang jalan bahkan terlihat dipasang di banyak titik di Negeri Jiran.

Pemeriksaan juga diperketat. Hal ini terkait situasi politik yang memanas pasca pemilihan umum (pemilu) yang tak mampu menunjuk perdana menteri (PM) baru.

"Pendirian pos ini merupakan bagian dari upaya untuk mencegah kejahatan ... untuk memastikan keamanan dan ketertiban masyarakat," kata Inspektur Jenderal Polisi Tan Sri Acryl Sani Abdullah Sani dikutip dari Malay Mail.

"Masyarakat diminta untuk bekerja sama dalam mematuhi instruksi yang diberikan di setiap pos pemeriksaan," tambahnya lagi.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Malaysia Siaga Chaos Gegara PM Baru, Polisi Turun Tangan


(sef/sef)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading