Mau Jadi Raja Baterai, Segini Mobil Listrik Mengaspal di RI

News - Firda Dw Muliawati, CNBC Indonesia
21 November 2022 19:22
Presiden Jokowi dan rombongan menggunakan mobil listrik dalam rangkaian kendaraan yang membawanya ke Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) di Kabupaten Batang. (Dok: Biro Pers Sekretariat Presiden) Foto: Presiden Jokowi dan rombongan menggunakan mobil listrik dalam rangkaian kendaraan yang membawanya ke Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) di Kabupaten Batang. (Dok: Biro Pers Sekretariat Presiden)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia memiliki cita-cita menjadi "raja" baterai kendaraan listrik (Electric Vehicle/ EV) di dunia. Besarnya sumber daya nikel RI, bahkan merupakan pemilik cadangan nikel terbesar di dunia, menjadi salah satu pemicunya.

Di tengah cita-cita RI tersebut, berapa banyak jumlah kendaraan listrik yang telah mengaspal di Tanah Air?

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menyebutkan bahwa status per 17 November 2022, Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) yang mengaspal di Tanah Air baru berjumlah total 33.810 unit. Adapun jenis mobil penumpang dengan jumlah lebih dari 7.000 unit, sepeda motor dengan jumlah 25.782 unit.

Selain itu, jumlah kendaraan roda tiga sebanyak 285 unit, bus dengan total 58 unit, dan mobil barang sebanyak 6 unit.

"Sampai dengan 17 November 2022 terdapat KBLBB 33.810 unit dan jumlah sepeda motor yang telah konversi sejumlah 128 unit," ungkapnya dalam Rapat Kerja bersama Komisi VII DPR RI, Senin (21/11/2022).

Namun demikian, menurutnya jumlah kendaraan listrik di Tanah Air akan meningkat secara bertahap dan akan naik signifikan pada 2030 mendatang.

Dia menyebut, pemerintah menargetkan KBLBB untuk kendaraan roda empat mencapai sebanyak 2.197.780 unit. Sedangkan, untuk kendaraan listrik roda dua sebanyak 13.469.000 unit pada 2030 mendatang.

"Bila target KBLBB 2030 tercapai yaitu mobil listrik sebesar 2 juta unit dan motor listrik 13 juta unit, akan terjadi penghematan BBM sebesar 8,1 juta kl dan pengurangan emisi CO2 sebesar 17.6 juta ton," katanya.

Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo (Jokowi) berkeyakinan penuh pabrikan mobil listrik terkemuka, Tesla akan membangun industri baterai dan pabrik mobil listrik di Indonesia.

Keyakinan tersebut disampaikan Jokowi dalam kutipan wawancara dengan The Economist yang diunggah dalam akun Instagram @jokowi, seperti dikutip CNBC Indonesia, Senin (21/11/2022).

"Saya meyakini Tesla akan membangun pabrik baterai dan industri mobil di Indonesia," kata Jokowi.

Jokowi mengaku 'pede' Tesla akan menanamkan modalnya di dalam negeri, karena Indonesia bisa menawarkan hal yang tidak dimiliki negara lain. Menurut Jokowi, Indonesia adalah salah satu pasar terbesar di Asia.

Jokowi mengaku pemerintah Indonesia masih berdiskusi dengan Tesla terkait rencana investasi tersebut. Namun dalam wawancara itu, Jokowi juga tidak menjelaskan secara gamblang sudah sejauh mana pembicaraan investasi ini dengan Elon Musk, CEO Tesla.

Selain itu, komitmen Indonesia menjalankan hilirisasi di sektor pertambangan memang tak main-main, khususnya nikel. Salah satu bukti nyata proses menuju "raja baterai" kendaraan listrik dunia ini yaitu dibangunnya empat pabrik katoda baterai EV di Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah. Bahkan, dua di antaranya ternyata telah beroperasi.

CEO PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMP) Alexander Barus menyebutkan bahwa Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) akan datang ke Morowali, Sulawesi Tengah untuk acara peresmian pabrik komponen baterai EV yakni pabrik katoda baterai pada akhir bulan ini.

"Nah untuk Morowali kita rencanakan ada empat sebetulnya pabrik nanti penghasil prekursor katoda untuk baterai mobil listrik ini dengan dasar nikel dengan komponen nikel kobalt mangan," tuturnya dalam program 'Mining Zone' CNBC Indonesia, dikutip Jumat (11/11/2022).

Dia memaparkan, empat pabrik katoda baterai EV itu antara lain dikembangkan oleh PT Huayue Nickel Cobalt, PT QMB New Energy Material, PT Fajar Metal Industry, dan PT Teluk Metal Industry.

Adapun total kapasitas produksi katoda baterai EV dari keempat pabrik tersebut yakni mencapai 240.000 metrik ton nikel kobalt dan nikel sulfida.

Dari keempat pabrik tersebut, dua pabrik ternyata telah beroperasi, yakni yang digarap oleh PT Huayue Nickel Cobalt dengan kapasitas produksi katoda 70.000 ton nikel kobalt (Ni-Co) per tahun dan PT QMB New Energy Material dengan kapasitas 50.000 ton nikel sulfida dan nikel kobalt (Ni-Co) per tahun.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Sebentar Lagi, RI Bisa Sulap Nikel Jadi Baterai Mobil Listrik


(wia)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading