Capai Karbon Zero 2030 RI Butuh Rp 5.000 T, Duit Dari Mana?

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
18 November 2022 21:10
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto Foto: dok Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, untuk mencapai net zero emission atau karbon netral pada 2030, Indonesia membutuhkan dana sebesar US$ 322,8 miliar atau sekira Rp 5.000 triliun (kurs Rp 15.500/US$).

"Indonesia membutuhkan sekitar US$ 322,8 miliar untuk mencapai target National Determined Contribution (NDC) pada 2030," jelas Airlangga dalam siaran persnya, Jumat (18/11/2022).

Sehingga, kata Airlangga dibutuhkan mekanisme pembiayaan yang inovatif, termasuk dari sektor privat, komunitas internasional, atau bauran pembiayaan lainnya.



Airlangga bilang, Konferensi Tingkat Tinggi Asia Pacific Economic Cooperation (KTT APEC) yang berlangsung hari ini di Thailand momentum penting dalam mempromosikan peningkatan kapasitas dan transfer teknologi.

"APEC perlu membentuk mekanisme pembiayaan untuk mendukung implementasi transisi hijau di ekonomi anggota," tuturnya.

Lebih lanjut, Airlangga menjelaskan, dalam mempromosikan peningkatan kapasitas dan transfer teknologi, negara ekonomi berkembang menghadapi keterbatasan kapasitas institusional dan kurangnya akses terhadap teknologi hijau.

APEC sebagai incubator of ideas dinilai penting untuk menggalang kerja sama yang konkret dalam mendukung pertukaran pengetahuan dan informasi, serta kolaborasi riset untuk mendukung transisi hijau yang merata di antara ekonomi APEC.

Adapun model ekonomi Bio-Circular Growth (BCG) yang digagas oleh APEC dinilai sangat relevan dengan adanya berbagai tantangan ke depan.

"Model ekonomi ini tidak hanya dapat mendukung kebutuhan ekonomi saat ini, tapi juga mendukung keberlangsungan generasi masa depan kita," tutur Airlangga.



Melansir laman resmi organisasi APEC, model ekonomi Bio-Circular Green merupakan salah satu pembahasan pertemuan APEC, sebagai strategi pertumbuhan pasca pandemi yang menjanjikan.

Di mana sains, inovasi, dan teknologi diterapkan untuk mempromosikan dan memulihkan ekosistem, dan mengurangi limbah untuk membangun sebuah sistem baik itu di pemerintahan dan perusahaan.

Model ekonomi BCG, dijelaskan APEC berkontribusi pada upaya global untuk secara komprehensif mengatasi semua tantangan lingkungan di bumi yang berkelanjutan.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ada Ancaman Ngeri, Ekonomi RI Bisa Nyusut Segini!


(cap/mij)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading