Internasional

Zelensky di KTT G20 Bali: Rusia Ingin Ubah PLTN Jadi Bom

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
15 November 2022 15:00
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky berbicara dari Kyiv, Ukraina, pada hari Senin (21/3/2022). (Ukrainian Presidential Press Office via AP) Foto: Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky berbicara dari Kyiv, Ukraina, pada hari Senin (21/3/2022). (Ukrainian Presidential Press Office via AP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menghadiri KTT G20 Bali secara virtual. Dalam kesempatan itu, ia memberikan pidato terkait kondisi negara itu dalam perangnya dengan Rusia.

Dalam sebuah teks pidato yang diperoleh CNBC Indonesia, Zelensky menyuarakan 10 poin terkait ancaman Rusia yang terus menghantui negaranya. Salah satunya adalah ancaman terkait nuklir.

Menurutnya, Rusia berniat untuk mengubah pembangkit nuklir Zaporizhzhia menjadi bom radiasi. Ia menyebut arah angin radiasi dapat mengarah ke manapun, termasuk Eropa dan Timur Tengah.

"Saya menganggap pidana bahkan kemungkinan hipotesis dari skenario seperti itu!" tulis teks itu dikutip Selasa, (15/11/2022).

Ia mengatakan lembaga atom internasional IAEA telah mengeluarkan rekomendasi terkait potensi bencana yang ditimbulkan di pembangkit nuklir terbesar Eropa itu. Menurutnya, Rusia harus segera menarik diri dari penguasaannya atas reaktor itu.

"Pembangkit ini harus segera dipindahkan ke bawah kendali IAEA dan awak buah Ukraina. Sambungan biasa PLTN ke jaringan listrik harus segera dipulihkan sehingga tidak ada yang mengancam stabilitas reaktor."

"Kami mengusulkan untuk mengirim misi IAEA ke semua pembangkit nuklir Ukraina - empat di antaranya, total 15 unit nuklir. Ditambah PLTN Chernobyl, yang telah diberhentikan dan ditutup. Misi semacam itu dapat memverifikasi bahwa setiap aktivitas permusuhan terhadap fasilitas nuklir Ukraina memang telah dihentikan."

Zelensky pun memaparkan bahwa dengan situasi semacam ini, ia yakni G20 dan dunia akan mampu menciptakan formulasi perdamaian yang tepat. Menurutnya, ini juga merupakan langkah tegaknya kembali hukum internasional.

"Ini adalah mengembalikan stabilitas global, yang tanpanya semua orang di dunia akan menderita. Dan inilah arti, arti untuk negara-negara jujur di dunia bekerja sama," tambahnya.

Eskalasi terkait nuklir telah meningkat dalam peperangan antara Rusia dan Ukraina. Presiden Rusia Vladimir Putin sempat memberikan sinyal akan menjatuhkan senjata berbahaya itu bila wilayah yang dicaploknya di Ukraina kembali terancam.

Ketegangan nuklir ini juga memuncak tatkala PLTN Zaporizhzhia menjadi medan pertempuran antara kedua negara. Akibat perang itu, sejumlah instalasi nuklir dilaporkan mengalami gangguan.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Rusia dan Ukraina Saling Tuding sebagai Pemicu 'Teror Nuklir'


(luc/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading