Diam-Diam Morowali Bakal Punya 4 Pabrik Baterai Mobil Listrik

News - Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
11 November 2022 18:05
foto/ Indonesia Morowali Industrial Park/ Dok. Indonesia Morowali Industrial Park Foto: foto/ Indonesia Morowali Industrial Park/ Dok. Indonesia Morowali Industrial Park

Jakarta, CNBC Indonesia - Komitmen Indonesia menjalankan hilirisasi di sektor pertambangan memang tak main-main, khususnya nikel. Sejumlah pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel menjadi produk hilir sampai stainless steel hingga pabrik baterai kendaraan listrik (Electric Vehicle/ EV) tengah dibangun.

Dengan sumber daya nikel terbesar di dunia, bukan hal mustahil Indonesia bisa menjadi "raja baterai" kendaraan listrik dunia.

Adapun salah satu bukti nyata proses menuju "raja baterai" kendaraan listrik dunia ini yaitu dibangunnya empat pabrik katoda baterai EV di Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah. Bahkan, dua di antaranya ternyata telah beroperasi.

CEO PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMP) Alexander Barus menyebutkan bahwa Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) akan datang ke Morowali, Sulawesi Tengah untuk acara peresmian pabrik komponen baterai EV yakni pabrik katoda baterai pada akhir bulan ini.

"Nah untuk Morowali kita rencanakan ada empat sebetulnya pabrik nanti penghasil prekursor katoda untuk baterai mobil listrik ini dengan dasar nikel dengan komponen nikel kobalt mangan," tuturnya dalam program 'Mining Zone' CNBC Indonesia, dikutip Jumat (11/11/2022).

Dia memaparkan, empat pabrik katoda baterai EV itu antara lain dikembangkan oleh PT Huayue Nickel Cobalt, PT QMB New Energy Material, PT Fajar Metal Industry, dan PT Teluk Metal Industry.

Adapun total kapasitas produksi katoda baterai EV dari keempat pabrik tersebut yakni mencapai 240.000 metrik ton nikel kobalt dan nikel sulfida.

Dari keempat pabrik tersebut, dua pabrik ternyata telah beroperasi, yakni yang digarap oleh PT Huayue Nickel Cobalt dengan kapasitas produksi katoda 70.000 ton nikel kobalt (Ni-Co) per tahun dan PT QMB New Energy Material dengan kapasitas 50.000 ton nikel sulfida dan nikel kobalt (Ni-Co) per tahun.

"Sudah disampaikan bahwa Presiden akan datang ke Morowali untuk meresmikan pabrik dalam pengertian bahwa ini kita sebut pabrik baterai, tapi pada dasarnya ini adalah pabrik yang dibangun untuk menghasilkan katoda untuk baterai mobil listrik," ungkapnya.

"Saat ini dah beroperasi juga dua yaitu PT Huayue Nickel Cobalt dan PT QMB New Energy Material yang keduanya berkapasitas 120.000 metrik ton nikel-kobalt-mangan," lanjutnya.

Sementara itu, pemerintah sempat mengungkapkan ada setidaknya empat wilayah yang akan dibangun pabrik baterai kendaraan listrik. Selain kawasan industri Morowali, pabrik baterai EV juga akan dibangun di Kawasan Industri Weda Bay yang dikelola PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Kecamatan Weda, Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara. Kemudian, kawasan industri di Kabupaten Konawe, dan terakhir kawasan industri di Pomalaa, Sulawesi Tenggara.

Perlu diketahui, IMIP memiliki klaster katoda baterai EV yang dibangun oleh empat perusahaan, antara lain:

1. PT Huayue Nickel Cobalt yang memiliki kapasitas produksi 70.000 ton per tahun (Ni-Co).
2. PT QMB New Energy Material dengan kapasitas produksi sebesar 50.000 ton per tahun (Ni Sulfide & Ni-Co).
3. PT Fajar Metal Industry dengan kapasitas 60.000 ton per tahun (Ni Sulfide).
4. PT Teluk Metal Industry dengan kapasitas 60.000 ton per tahun (Ni-Sulfide).

Adapun total investasi untuk pembangunan klaster ketiga ini sebesar US$ 3 miliar dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 5.000 orang.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Anak Buah Luhut Beberkan Proyek Nyata RI Jadi Raja Baterai EV


(wia)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading