PDB Kuartal III-2022

Hmm! Ada yang Aneh di Ekonomi Indonesia Saat Meroket 5,72%

News - Redaksi, CNBC Indonesia
09 November 2022 09:00
Infografis/Bukan Menakuti, Corona Bikin Parah Tsunami PHK di RI/Aristya Rahadian Krisabella Foto: Infografis/Bukan Menakuti, Corona Bikin Parah Tsunami PHK di RI/Aristya Rahadian Krisabella

Jakarta, CNBC Indonesia - Awal bulan ini harusnya menjadi kabar bahagia bagi masyarakat Indonesia. Di saat ekonomi dunia sulit dan banyak negara jatuh ke jurang resesi, Indonesia berhasil menorehkan hasil yang cemerlang.

Lihat saja laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang baru saja diumumkan, Senin (7/11/2022). Selama kuartal III-2022, pertumbuhan ekonomi Indonesia menembus 5,72% (year on year/yoy).

Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,72% (yoy) adalah yang tertinggi sejak kuartal II-2021 (7,07%) atau dalam lima kuartal terakhir. Namun, tingginya pertumbuhan kuartal II-2021 merupakan anomali karena lebih dipengaruhi oleh rendahnya basis perhitungan pada kuartal II-2020 (-5,32%).

Jika menghilangkan periode anomali pada kuartal II-2021, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2022 adalah yang tertinggi sejak kuartal IV-2012 atau dalam 10 tahun terakhir di mana ekonomi Indonesia tumbuh 5,87%.

Dibandingkan kuartal sebelumnya (quartal to quartal/qtq), ekonomi Indonesia pada periode Juli-September 2022 mencapai 1,81%.

Sektor industri yang menjadi tulang punggung pergerakan ekonomi tumbuh 4,83% (yoy) sementara sektor pertanian yang paling menyumbang tenaga kerja terbanyak tumbuh 1,65% (yoy).

Kenaikan harga komoditas menjadi berkah bagi provinsi-provinsi yang mengandalkan pertumbuhan dari sektor pertumbuhan.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Tengah terbang 19,13 (yoy) pada kuartal III-2022 dengan kontribusi sektor pertambangan dan penggalian sebesar 4,12%. PDRB Nusa Tenggara Barat melesat 7,10% dimana sektor pertambangan menjadi sumber pertumbuhan sebesar 3,94%.

PDRB Papua tumbuh 5,78% (yoy) pada kuartal III dengan sektor pertambangan menjadi sumber pertumbuhan sebesar 3,51%.

Dari sisi pengeluaran, hanya konsumsi pemerintah yang terkontraksi pada Juli-September 2022 yakni negatif 2,88% (yoy).

Sementara itu, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,39% (yoy), investasi tumbuh 4,96% (yoy), ekspor melesat 21,64% (yoy), dan impor tumbuh 22,98% (yoy). Baik ekspor maupun impor sudah tumbuh double digit sejak kuartal II-2021 atau enam kuartal terakhir.

Keanehan di Ekonomi RI

"Walaupun perekonomian kita tumbuh bagus 5,72% bukan berarti semua perusahaan untung," ungkap Direktur Riset Core Indonesia Piter Abdullah kepada CNBC Indonesia, Selasa (8/11/2022)

Dilihat dari lapangan usaha, ada beberapa sektor yang melesat tinggi dan menurun tajam hingga berujung pada pemutusan hubungan karyawan (PHK).

Pertumbuhan tinggi terjadi pada angkutan rel yang mencapai 126,68% dari 56,94% kuartal sebelumnya. Selanjutnya angkutan udara 144,35% (yoy) dari 57,67%, penyediaan akomodasi 62,70% dari 28,25%, industri logam dasar 20,16% dari 15,79%, industri mesin dan perlengkapan 17,67% dari 11,22%, pertambangan batu bara dan lignit 9,41% dari 4,25% kuartal sebelumnya.

Penurunan tajam dialami oleh jasa kesehatan dan kegiatan sosial yang -1,74% (yoy) dari 6,49% kuartal sebelumnya. Pengadaan gas dan produksi es tumbuh melambat 1,12% dari 6,03%, industri kimia, farmasi dan obat - 3,50% dari 2,10%, industri kayu dan turunannya -4,31% dari 5,36% dan industri tekstil dan pakaian jadi 8,09% dari 13,74% serta industri furnitur -3,85% dari -0,16%.

Menurut Piter, ada banyak penyebab terjadinya perlambatan pertumbuhan pada sektor-sektor tertentu hingga berujung PHK karyawan. Antara lain efek rendahnya permintaan global yang memukul industri padat karya seperti tekstil, garmen dan sepatu. Penyebab lainnya adalah keterbatasan modal yang dialami oleh pelaku startup digital, sehingga opsi yang dipilih adalah rasionalisasi dalam hal pegawai.

"Kalau digital lebih dikarenakan mereka harus melakukan operasionalisasi karena keterbatasan modal mereka juga tidak bisa lagi bakar-bakar duit, sumber dana dari investornya sudah hampir habis," paparnya.

Sementara itu, industri yang tumbuh tinggi ditopang oleh beberapa faktor. Antara lain masih tingginya harga komoditas internasional, pelemahan nilai tukar rupiah dan peningkatan mobilitas masyarakat seiring dengan melandainya kasus covid-19.

"Transportasi dipicu oleh mulai membaiknya mobilitas masyarakat karena pandemi mereda, jadi tingkat keuntungan di transportasi tinggi sekarang kan tiket pesawat naik berkali lipat itu jelas menguntungkan bagi pengusaha di sektor transportasi," paparnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ramalan Ngeri Jokowi: Ekonomi 60 Negara Bakal Ambruk!


(mij/mij)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading