Begini Cara Pemerintah Pilih Investor Proyek Infrastruktur

News - Romys Binekasri, CNBC Indonesia
05 October 2022 21:20
Proyek pembangunan Rusun Kampung Bayam di Jakarta, Rabu (13/7/2022). (CNBC Indonesia/Tri Susilo) Foto: Proyek pembangunan Rusun Kampung Bayam di Jakarta, Rabu (13/7/2022). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah punya cara khusus untuk mengetahui kredibilitas investor di proyek infrastruktur. Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan Rionald Silaban mengatakan, investor yang kredibel juga menginginkan partner bisnisnya berkemampuan setara. Hal itu menjadi pertimbangan mereka, khususnya terkait aspek tingkat risiko. 

"Yang perlu dimengerti ketika kita hendak mencari mitra yang kelasnya ada sovereign, si mitra itu juga ingin mitranya di Indonesia kelasnya sovereign, bukan PT biasa. Ini yang harus kita mengerti," ujarnya dalam sebuah acara diskusi virtual, Rabu (5/10/2022).

Rionald menyebut, hal itu yang menjadi alasan pemerintah membentuk Indonesia Investment Authority (INA). INA sendiri merupakan sovereign wealth fund (SWF) Indonesia. Melalui dana investasi yang dikelola, INA membangun kekayaan untuk generasi mendatang dan berkontribusi untuk pembangunan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan.

"Kalau mitra di luar sana adalah sovereign, sementara di sini adanya PT, ada banyak hal yang jadi pertimbangan mereka, khususnya tingkat risikonya," jelasnya.

"Targetnya adalah kita ingin INA dalam membantu optimalisasi nilai investasi pemerintah juga meningkatkan for seling investment dan berkontribusi dalam perbaikan iklim investigasi di Indonesia," kata Rionald lagi.

Terkait pemanfaatan laba INA, bagian yang disisihkan untuk cadangan wajib paling sedikit 10% dari laba. Menurut Rionald, hal ini menunjukkan bahwa INA menerapkan prinsip kehati-hatian dan wajib dilakukan hingga 50% dari modal INA. Akumulasi laba ditahan akan diinvestasikan sesuai kebijakan investasi.

"Dalam hal akumulasi laba ditahan melebih 50% dari modal INA, maka kelebihannya akan digunakan sebagai pembagian laba untuk pemerintah," ujarnya.

Adapun pembagian dividen INA yang diberikan kepada negara sebesar 30% dari laba per tahunnya. Namun saat ini, pemerintah tidak fokus pada setoran laba, melainkan pada penguatan modal INA terlebih dahulu.

Saat ini, modal INA sebesar Rp 75 triliun. Penguatan modal INA merupakan alternatif skema investasi yang dapat memberikan dampak positif bagi kelangsungan bisnis dan memberikan kontribusi.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ini Keuntungan Investasi di Wilayah Jawa Barat


(hsy/hsy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading