Sri Mulyani: Negara Maju Berpotensi Resesi di 2023

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
30 September 2022 09:45
RI Ketiban Sial Resesi Amerika, Kok Bisa Bu Sri Mulyani? Foto: Infografis/RI Ketiban Sial Resesi Amerika, Kok Bisa Bu Sri Mulyani?/Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, tantangan gejolak ekonomi dunia sangat nyata. Inflasi sudah melambung tinggi di negara-negara maju saat ini, dan diperkirakan mengalami resesi ekonomi pada tahun depan.

Sri Mulyani menjelaskan, selama satu bulan terakhir beberapa indikator bergerak sangat cepat. Harga minyak dunia dan CPO (Crude Palm Oil/Kelapa Sawit) mengalami penurunan, sementara mata uang beberapa negara mengalami volatilitas yang tinggi.

"Selama tahun 2022 nilai tukar mata uang berbagai negara terhadap dolar Amerika mengalami koreksi yang sangat tajam," jelas Sri Mulyani saat menyampaikan pidato di dalam pengesahan Undang-Undang APBN 2023 kemarin, dikutip Jumat (29/9/2022).



Bendahara negara itu merinci, Yen Jepang telah mengalami depresiasi 25,8%, Renminbi China mengalami depresiasi 12,9%, dan Lira Turki mengalami depresiasi 38,6%.

Pelemahan mata uang negara terhadap dolar Amerika juga terjadi di negara tetangga Indonesia seperti Malaysia yang terdepresiasi 10,7%, Baht Thailand terdepresiasi 14,1%, dan Peso Filipina terdepresiasi 15,7%. Sementara nilai tukar rupiah, dalam periode yang sama, hanya mengalami depresiasi 6,1%.

"Kita juga menyaksikan bahwa inflasi di negara-negara maju yang sebelumnya selalu single digit atau mendekati 0% dalam 40 tahun terakhir, sekarang melonjak double digit. Bahkan inflasi di Turki mencapai 80,2% dan di Argentina mencapai 78,5%," jelas Sri Mulyani.

Inflasi yang sangat tinggi itu, kata Sri Mulyani telah mendorong respons kebijakan moneter terutama di Amerika Serikat, Inggris, dan negara-negara Eropa lainnya dengan sangat agresif menaikkan suku bunga yang menyebabkan gejolak di sektor keuangan, dan arus modal keluar (capital outflow) dari negara-negara emerging.

"Mencapai US$ 9,9 miliar atau setara Rp 148,1 triliun year to date sampai dengan 22 September 2022. Hal ini menyebabkan tekanan pada nilai tukar di berbagai negara emerging," tuturnya.



Kenaikan suku bunga untuk menekan inflasi berpotensi akan mempengaruhi kinerja ekonomi global pada tahun 2023 yakni potensi mengalami koreksi ke bawah. Sri Mulyani menyebut, inflasi yang meningkat dan pertumbuhan ekonomi yang melambat akan mengakibatkan stagflasi.

"Negara maju seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa yang merupakan penggerak perekonomian berpotensi mengalami resesi pada tahun 2023," jelas Sri Mulyani.

Seperti diketahui, The Fed baru saja menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin, artinya sejak awal kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve sudah mencapai 300 basis poin. Kenaikan suku bunga di berbagai negara, terutama negara maju.

"Jelas akan meningkatkan cost of fund dan mengetatkan likuiditas yang harus kita waspadai secara sangat hati-hati," tutur Sri Mulyani.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Tak Resesi Bukan Berarti RI Aman, Nih Penjelasan Sri Mulyani!


(cap/mij)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading