Lapor, Pak Jokowi! Harga Beras di Jakarta Beterbangan Lagi

News - Damiana Cut Emeria, CNBC Indonesia
26 September 2022 16:26
Stok Gudang Beras di Pasar Jakarta Masih Aman. (CNBC Indonesia/Tri Susilo) Foto: Stok Gudang Beras di Pasar Jakarta Masih Aman. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga beras terpantau melanjutkan kenaikan hingga sore ini.

Informasi Pangan Jakarta mencatat, hari ini, Senin (26/9/2022 pukul 15.58 WIB), harga beras semua jenis naik.

Harga rata-rata beras di Jakarta hari ini:

- IR.III (IR 64/ medium) naik Rp28 jadi Rp9.928 per kg
- IR.II (IR 64) naik Rp37 jadi Rp10.722 per kg
- IR.I (IR 64) naik Rp10 jadi Rp11.597 per kg
- Setra/ Premium naik Rp177 jadi Rp12.336 per kg
- IR42/ Pera naik Rp90 jadi Rp12.190 per kg
- Beras Muncul.I naik Rp17 jadi Rp12.451 per kg.

Secara nasional, Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) mencatat, beras yang mengalami kenaikan harga pada Senin (26/9/2022) adalah jenis Super I yang naik Rp50 jadi Rp13.400 per kg. Harga tersebut merupakan rata-rata tingkat konsumen nasional, data dikutip pukul 16.02 WIB

Untuk harga di tingkat produsen, secara rata-rata nasional harga beras tanggal 23 September 2022 dibandingkan 26 Agustus 2022 adalah sebagai berikut:

- kualitas bawah I dari Rp8.600 jadi Rp8.650 per kg
- kualitas bawah II dari Rp8.250 jadi Rp8.400 per kg
- kualitas medium I bertengger di Rp9.400 per kg
- kualitas medium II dari Rp9.300 jadi Rp9.400 per kg
- kualitas super I dari Rp10.450 jadi Rp10.500 per kg
- kualitas super II dari Rp12.850 jadi Rp13.000 per kg.

Pengamat Pertanian Khudori mengatakan, kenaikan harga beras di musim gadu (musim panen kedua) hingga paceklik sampai masuk panen menuju panen raya adalah siklus normal.

"Tapi, memang nggak selalu begitu, kadang ada juga pengaruh lain, anomali. Saya cek data EWS Kemendag, memang harga naik. Meski kecil, hanya Rp200-an atau 1 koma sekian persen. Tapi, ini hal baru setelah 2-3 tahun terakhir, harga beras relatif tetap stabil antarmusim," kata Khudori kepada CNBC Indonesia, dikutip Senin (26/9/2022).

Sepanjang tahun 2020-2021, kata dia, dalam kurun waktu 12 bulan, 7 bulan diantaranya, beras jadi salah satu penyebab deflasi.

"Ini nggak pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Kalau ditarik ke sini, selama 2-3 tahun ini, ada pergerseran komoditas penyumbang inflasi, dari sebelumnya beras dominan. Apakah kemudian beras akan jadi komoditas penting penyebab inflasi lagi, belum tahu," kata Khudori.

Dia menduga, kenaikan harga beras sebagai dampak kenaikan harga pembelian pemerintah (HPP) untuk pengadaan stok oleh Perum Bulog. Di mana, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) memberlakukan harga fleksibilitas untuk pembelian beras.

"Ini adalah langkah yang salah dilakukan sebelum panen raya. Kalau diberlakukan di November-Desember, saat paceklik, nggak masalah. Tapi, saat ini, ketika musim gadu, di mana ada bulan tertentu kita minus, langkah Bapanas menaikkan HPP sama saja mendorong kenaikan harga beras di pasar," jelasnya.

HPP Bulog, lanjut Khudori, menjadi referensi bagi harga di pasar. Akibatnya, harga yang diterima konsumen akan naik.

"Yang dilakukan Bulog ini merusak pasar. Memang, harga beras naik ini setidaknya bisa membantu petani. Tapi, apakah benar petani menikmati kenaikan harga ini, harus dicek juga. Yang jelas, ketika harga fleksibilitas diumumkan dan langsung berlaku, harga di pasar otomatis naik," pungkas Khudori.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Pangan Dunia 'Menggila', Jokowi Pamer Harga Beras RI Stabil


(dce/dce)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading