5 Konglomerat RI yang Tajir Melintir dari Bisnis Kelapa Sawit

News - Tim Redaksi, CNBC Indonesia, CNBC Indonesia
25 September 2022 15:45
Seorang pekerja berdiri saat menurunkan tandan buah segar untuk didistribusikan dari tempat pengumpul ke pabrik CPO di Kabupaten Kampar di provinsi Riau, Indonesia, Selasa (26/4/2022). (REUTERS/Willy Kurniawan) Foto: Seorang pekerja berdiri saat menurunkan tandan buah segar untuk didistribusikan dari tempat pengumpul ke pabrik CPO di Kabupaten Kampar di provinsi Riau, Indonesia, Selasa (26/4/2022). (REUTERS/Willy Kurniawan)

Jakarta, CNBC Indonesia - Fitch Ratings sebuah perusahaan riset asal Amerika memprediksikan harga CPO akan dibanderol dengan harga di bawah US$ 1.000/ton pada paruh kedua tahun ini, setelah sempat mencapai harga dengan rata-rata US$1.500/ton di paruh pertama tahun ini.

Penurunan harga CPO diprediksikan karena potensi produksi CPO yang lebih tinggi dari Indonesia. Di balik potensi produksi CPO yang besar di Indonesia tersebut, ada nama-nama pengusaha yang bertahun-tahun berkecimpung di bisnis ini.

Bahkan, mereka banyak menuai cuan dari tingginya harga CPO selama hampir dua tahun terakhir. Berikut ini, nama-nama pebisnis CPO yang dikumpulkan CNBC Indonesia:


1. Martua Sitorus

Martua Sitorus bersama dengan Kuok Khoon Hong mendirikan Wilmar pada tahun 1991. Saat awal berdiri, perusahaan ini memiliki kurang dari 10.000 hektare (ha) kebun kelapa sawit di Sumatera Utara.

Perusahaannya terus berkembang hingga ratusan ribu ha dan tercatat memiliki banyak pabrik pengolahan minyak sawit. Dirinya bahkan mendapatkan julukan sebagai Raja Minyak Sawit Indonesia.

Wilmar adalah salah satu pemilik perkebunan kelapa sawit terluas di dunia dengan total lahan tanam mencapai 232.053 ha pada akhir tahun lalu. Dari jumlah tersebut, 65 persen kebun sawit di Indonesia; sekitar 26% di Malaysia timur, dan sisanya atau 9 persen ada di Afrika.

Saat ini, nama Maratua berada di peringkat 14 sebagai orang terkaya di Indonesia versi Forbes tahun lalu. Menurut data real time billionaires Forbes, saat ini dia memiliki kekayaan bersih sebesar US$ 2,7 miliar atau Rp 39 triliun.

2. Anthoni Salim

Siap yang tidak kenal Anthoni Salim? Sumber kekayaan Anthoni Salim tidak hanya berasal dari produk mi instan, Indomie, tapi juga dari kelapa sawit.

Diketahui bisnis kelapa sawit keluarga Salim dijalankan lewat perusahaannya Indofood Agri Resources Ltd. Sementara di bawah Grup Salim, ada beberapa perusahaan yang bergerak di bidang kelapa sawit, seperti PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dan PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP).

Beberapa tahun ke belakang, Grup Salim telah mengakuisisi banyak perusahaan kelapa sawit yang membuat lahan miliknya menjadi makin luas.

Dia diketahui menempati peringkat ke-3 orang terkaya di Indonesia versi Forbes 2021. Adapun kekayaannya saat ini sebesar US$ 8,5 miliar atau Rp122,7 triliun.

3. Sukanto Tanoto

Sukantor Tanoto memulai bisnisnya pada 1967 sebagai pemasok suku cadang dan pengusaha di bidang jasa konstruksi untuk industri minyak. Kini, Sukanto dikenal sebagai konglomerat pemilik grup usaha Royal Golden Eagle International (RGEI) yang dulu dikenal sebagai Raja Garuda Mas yang berbasis di Singapura.

RGEI bergerak di berbagai industri, di antaranya kertas dan pulp (Asia Pacific Resources International Holding Ltd), dan industri perkebunan kelapa sawit (Asian Agri dan Apical).

Sukanto Tanoto berada peringkat ke-21 orang terkaya Indonesia versi Forbes 2021. Kekayaannya saat ini tercatat sebesar US$ 1,9 miliar atau Rp 27,4 triliun.

4. Peter Sondakh

Peter Sondakh dikenal sebagai Kepala Rajawali Corporas, perusahaan investasi yang portofolionya mencakup hotel, media, dan pertambangan. Peter juga memiliki perusahaan properti Grup Rajawali Property. Selain itu, dia pun memiliki Perusahaan perkebunan kelapa sawit, PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT).

Peter Sondakh berada di peringkat 20 orang terkaya Indonesia versi Forbes 2021. Saat ini, kekayaannya sebesar US$ 2 miliar atau Rp28,9 triliun.

5. Theodore Rachmat

Theodore Rachmat yang akrab dipanggil dengan Teddy ini mendirikan grup Triputra pada 1998. Saat ini, grup tersebut memiliki empat lini bisnis, termasuk agribisnis, manufaktur, dan pertambangan. Dia menjalankan bisnis sawitnya melalui PT Triputra Agro Persada.

Theodore Rachmat berada di posisi 15 orang terkaya versi Forbes tahun lalu. Adapun kekayaannya saat ini tercatat sebesar US$ 3,4 miliar atau Rp 49,1 triliun.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Harga Minyak Goreng Turun, Bisa Rp14 Ribu Per Liter Lagi?


(haa/haa)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading