'Kiamat' Es Kutub Nyata, Kota-Kota Asia Tenggara dalam Bahaya

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
22 September 2022 21:15
A general view shows 100,000 postcards with messages against climate change, sent by young people from all over the world and stuck together to break the Guinness World Record of the biggest postcard on the Jungfraufirn, the upper part of Europe's longest glacier, the Aletschgletscher, near Jungfraujoch, Switzerland November 16, 2018.   REUTERS/Arnd Wiegmann Foto: Sebuah pandangan umum menunjukkan 100.000 kartu pos dengan pesan-pesan menentang perubahan iklim, yang dikirim oleh orang-orang muda dari seluruh dunia dan berkumpul bersama untuk memecahkan Rekor Dunia Guinness dari kartu pos terbesar di Jungfraufirn, bagian atas gletser terpanjang di Eropa, Aletschgletscher, dekat Jungfraujoch, Swiss 16 November 2018. REUTERS / Arnd Wiegmann

Jakarta, CNBC Indonesia - Ancaman perubahan iklim semakin nyata terasa. Terbaru, fenomena itu disebut telah menyebabkan kota-kota di Asia Tenggara semakin cepat tenggelam.

Dalam studi terbaru yang dilakukan Universitas Teknologi Nanyang (NTU) Singapura, tenggelamnya kota-kota ini sendiri disebabkan oleh mencairnya es di kutub yang membuat volume air laut meningkat. Ini kemudian juga diperparah oleh turunnya permukaan tanah akibat penggunaan air tanah yang berlebih.

"Banyak kota pesisir di Asia sekarang menjadi pusat pertumbuhan dan urbanisasi yang cepat. Hal ini telah mendorong permintaan ekstraksi air tanah untuk memenuhi kebutuhan air yang terus meningkat," ujar seorang mahasiswa PhD di Sekolah Lingkungan Asia NTU, Cheryl Tay, kepada Straits Times, Kamis (22/9/2022).

"Hal ini telah mendorong permintaan ekstraksi air tanah untuk memenuhi kebutuhan air yang terus meningkat."

Dalam pengukurannya, studi menunjukkan bahwa Jakarta tenggelam pada tingkat 4,4 mm per tahun dan Kota Ho Chi Minh pada 16,2 mm. Laporan telah menunjukkan bahwa ekstraksi air tanah yang berlebihan adalah penyebab utama penurunan tanah di kedua kota itu.

Di Kota Ho Chi Minh, konsentrasi bangunan tinggi di daerah dengan fondasi yang lemah juga berkontribusi pada penurunan tanah.

"Ditambah dengan curah hujan yang ekstrim dan kenaikan permukaan laut yang disebabkan oleh perubahan iklim, penurunan tanah dapat menyebabkan banjir yang lebih sering, intens dan berkepanjangan untuk tempat-tempat yang rentan selama beberapa tahun ke depan," tambah Tay.

Tay menyatakan dalam mengatasi masalah ini, pemerintah dapat membangun pertahanan pantai seperti tembok laut, atau memanfaatkan solusi berbasis alam seperti bakau.

"Mereka juga harus mengatasi akar penyebab masalah. Jika ekstraksi sumber daya seperti air tanah, minyak dan gas adalah penyebab utama penurunan tanah di kota tertentu, maka solusi yang disesuaikan untuk setiap yurisdiksi juga diperlukan," paparnya.

Profesor Philip Liu dari Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Universitas Nasional Singapura (NUS), menerangkan bahw sumber daya air lain akan diperlukan untuk menggantikan ekstraksi air tanah. Rencana ini dapat dilakukan dengan memompa air yang digunakan menjadi akuifer.

"Kebijakan ini membutuhkan kemauan politik," katanya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Sri Mulyani Sebut Indonesia Jadi Sorotan Dunia, Karena Apa?


(hoi/hoi)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading