Ini Efek Jika Indonesia Kalah dari WTO, Dunia Kacau Balau?

News - redaksi, CNBC Indonesia
21 September 2022 06:45
A worker uses the tapping process to separate nickel ore from other elements at a nickel processing plant in Sorowako, South Sulawesi Province, Indonesia March 1, 2012. REUTERS/Yusuf Ahmad Foto: REUTERS/Yusuf Ahmad

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Joko Widodo (Jokowi) sepertinya sudah bersiap jika Indonesia kalah menghadapi Uni Eropa di kancah perseteruan internasional.

Seperti diketahui, Uni Eropa dan sejumlah negara tengah menggugat Indonesia lewat mekanisme perselisihan organisasi perdaagangan dunia (World Trade Organization/ WTO). Gugatan menyangkut kebijakan Indonesia membatasi ekspor barang mentah sumber daya alam (SDA), salah satunya nikel.

"Nggak perlu takut setop ekspor nikel. Dibawa ke WTO nggak apa-apa. Dan kelihatannya kita juga kalah di WTO. Nggak apa-apa, tapi barangnya sudah jadi dulu, industrinya sudah jadi. Nggak apa-apa, kenapa kita harus takut? Kalau dibawa ke WTO kalah. Kalah nggak apa-apa, syukur bisa menang," kata Jokowi di hadapan para ekonom, dikutip Rabu (21/9/2022).

"Tapi kalah pun nggak apa-apa, industrinya sudah jadi dulu. Nanti juga sama. Ini memperbaiki tata kelola dan nilai tambah ada di dalam negeri," tambah Jokowi.

Lalu apa dampaknya jika Jokowi benar, RI kalah di WTO?

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, Indonesia bisa kena kewajiban konsekuensinya. Yaitu, harus membayar kompensasi kepada pihak yang memenangkan gugatan dengan nilai yang tidak kecil.

Selain kompensasi, implementasi hasil gugatan WTO berkorelasi dengan dibukanya kembali keran ekspor bijih nikel ke perusahaan di eropa.

"Meskipun ada rentang waktu pembukaan bijih nikel, tapi keputusan membuka ekspor bijih nikel sebenarnya blunder bagi daya tarik investasi terutama perusahaan China di proyek smelter. Karena 50% lebih penguasaan smelter nikel di Indonesia oleh investor China," ujar Bhima kepada CNBC Indonesia, dikutip Rabu (21/9/2022).

Selain itu, Bhima mengatakan, jika pemerintah kalah, hal itu juga bakal berdampak pada pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.

Salah satu komponen penting dalam pengembangan kendaraan listrik yakni terdapat pada sisi baterai.
Sedangkan Indonesia sendiri juga mempunyai ambisi untuk menjadi produsen baterai nomor satu dunia. Angan-angan itu diproyeksikan pupus jika benar nanti Uni Eropa memenangkan gugatan itu.

"Bisa mundur ke belakang, dimana Indonesia beli bahan baku baterai dari impor dan investor EV akan ragu bangun ekosistem industri EV di Indonesia. Mereka akan cari produsen bahan hilirisasi nikel yang siap," kata Bhima.

Pada saat bersamaan, Indonesia kemungkinan harus membuka kembali keran ekspor bijih nikel, terutama ke Eropa. Namun, dengan pasokan bijih nikel ke dunia kembali bertambah, maka harga nikel tentunya bisa merosot.

Sementara itu, harga nikel pada tahun ini bisa dikatakan lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Artinya, harga berpotensi anjlok.

Harga nikel di pasar spot London Metal Exchange (LME) bahkan sempat mengalami kondisi tak biasa di mana sempat menyentuh US$ 100.000 per ton pada 8 Maret 2022 lalu. Kondisi ini akhirnya membuat perdagangan nikel di London Metal Exchange (LME) dihentikan selama beberapa hari. Lalu turun ke level US$ 48.000, dan setelahnya relatif turun, namun sudah berada di kisaran di atas US$ 20.000 per ton.

Sejak pelarangan pada 2020 volume dan nilai ekspor bijih nikel mencapai titik 0. Padahal tahun sebelumnya ekspor bijih nikel nilainya mencapai US$ 1 miliar, tepatnya US$1.09 miliar atau Rp16,35 triliun. Sementara volumenya mencapai 32,38 miliar ton.

Pada 12 September 2022, harga nikel mencapai US$ 23.090 per ton. Sementara pada 2021 harga nikel rata-rata masih di bawah US$ 20.000 per ton.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Hilirisasi Harga Mati, Jokowi Siap Perang Lawan WTO


(dce/dce)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading