Resesi Global Menular, PDB RI Bisa Terpangkas Hingga 0,2%

News - haa, CNBC Indonesia
19 September 2022 13:35
Sejumlah kendaraan melintas di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, hari ini, Senin (4/7/2022). Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta merekayasa lalu lintas di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, sejak Senin (4/7/2022) hingga Senin (10/7/2022) yang diterapkan mulai pukul 16.00-21.00 WIB. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi kepadatan arus lalu lintas di Bundaran HI. (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki) Foto: Arus Lalu Lintas di kasawan Bundaran HI, Senin (4/7/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Resesi ekonomi global yang diperkirakan terjadi pada awal 2023 berisiko menurunkan kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Ekonom Bank Mandiri, Dian Ayu Yustina menyebutkan dampak perang di tengah pandemi telah memberikan risiko perlambatan ekonom dunia. Namun, risiko rambatan terhadap ekonomi Indonesia diperkirakan tidak akan signifikan.

"Kalau hanya perlambatan ekonomi global, saya pikir dampaknya tentunya ada tapi tidak akan terlalu besar karena basis konsumsi kita cukup besar," kata Dian, dalam Power Lunch, CNBC Indonesia, dikutip Senin (19/9/2022).

Menurutnya, porsi masyarakat kelas menengah di Tanah Air cukup besar. Sementara itu, Indonesia tengah berada dalam fase pemulihan. Dia melihat masyarakat masih berbelanja dan melakukan perjalanan.

Hal ini dapat menopang ekonomi Indonesia ke depannya. "Kalau ada potensi perlambatan kami pikir tidak akan besar mungkin sekitar -0,1 atau -0,2%. Misalnya dari 5,2% menjadi 5%," ujarnya.

Pemerintah memperkirakan ekonomi Indonesia pada tahun depan akan tumbuh sebesar 5,3%. Namun, kabar tak menyenangkan datang dari Menteri Keuangan Sri Mulyani yang mengaku tantangan ekonomi ke depannya semakin berat.

"Guncangan global sangat tidak predictable," ungkapnya dalam rapat kerja dengan Banggar DPR, dikutip (19/9/2022).

Hal ini terindikasi dari beberapa hal. Antara lain pandemi covid-19 yang belum sepenuhnya berakhir, perang Rusia dan Ukraina yang belum jelas ujungnya serta perubahan kebijakan moneter oleh sederet negara maju.

Semua itu, kata Sri Mulyani, akan memberikan dampak terhadap perekonomian, dari sisi makro maupun mikro.

Alhasil, asumsi yang dipergunakan dalam rancangan anggaran pendapatan dan belanja negara (RAPBN) 2023 harus sesuai.

"Berbagai skenario inflasi global yang melonjak tinggi dan memberikan kemungkinan kinerja ekonomi negara-negara maju harus kita perhatikan sebagai dinamika yang memiliki potensi pengaruhi pertumbuhan ekonomi," jelasnya.

Untuk proyeksi pertumbuhan ekonomi, Sri Mulyani tidak menutup kemungkinan adanya revisi akibat sikap agresif dari bank sentral di banyak negara maju dalam menaikkan suku bunga acuannya.

"kalau kita lihat secara hati-hati tahun 2023 ada tendensi revisi ke bawah terhadap proyeksi ekonomi ini karena hawkish atau tone dan position dari bank-bank sentral di negara maju," paparnya di Komisi XI DPR.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Dunia Terancam Resesi, Ada Pesan Buat Pak Jokowi Nih!


(haa/haa)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading