Swasembada Beras RI Diakui Internasional, Bulog Mau Ekspor

News - Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
19 August 2022 17:20
Pekerja merapikan beras Bulog di Gudang Bulog, Divisi Regional DKI Jakarta dan Banten  yang berada di kawasan Kelapa Gading, Jakarta (19/3/2021) . Pemerintah berencana Impor beras 1 juta ton. Dirut Perum Bulog Budi Waseso pun buka - bukaan soal kondisi ratusan ribu ton beras yang belum terpakai.   (CNBC Indonesia/ Tri Susuilo) Foto: Beras Bulog (CNBC Indonesia/ Tri Susuilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia baru saja mendapatkan pengakuan lembaga internasional, IRRI sebagai negara dengan ketahanan pangan dan swasembada beras. Karenanya, BUMN Pangan, Perum Bulog berencana melakukan ekspor beras. 

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo juga mengungkapkan harapannya agar Indonesia bisa berperan membantu mengatasi ancaman krisis pangan global. Di mana, ada 345 juta orang di 82 negara diprediksi akan menderita kekurangan pangan akut. Hal itu disampaikan saat pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Inflasi 2022, Kamis (18/8/2022).

Kepala Divisi Pengadaan Komoditi Perum Bulog Budi Cahyanto mengatakan ketahanan pangan Indonesia untuk beras cukup tinggi. Di mana pemerintah dalam hal ini Bulog mempunyai stok mencapai 1,1 - 1,5 juta ton.

Dengan kondisi ini, menurutnya Indonesia berpeluang melakukan ekspor karena menjadi produsen terbesar kedua di dunia. Meski masih menjadi salah satu negara yang mengonsumsi beras terbesar di dunia.

"Kita produsen terbesar kedua. Pertama China kedua Indonesia, cuma konsumsi kita tinggi. Jadi Indonesia berpotensi untuk ekspor," katanya Budi dalam webinar Forum Merdeka Barat 9, Jumat (19/8/2022).

Beras yang akan diekspor, imbuhnya, bukan sembarang. Tapi beras khas Indonesia, seperti Pandan Wangi, Rojolele, beras Mentik Wangi, yang tidak ada di negara lain.

"Itu tantangan ke depan. Bulog mungkin membuka peluang ekspor ke negara yang membutuhkan," katanya.

Dia membandingkan, dengan negara Thailand yang sudah sudah banyak melakukan ekspor. Di mana produksi beras di sana tidak lebih besar dari Indonesia hanya 19 juta ton dengan konsumsi dalam negeri 10 juta ton. Sedangkan produksi beras RI bisa mencapai 35 juta ton namun konsumsi sangat besar mencapai 31 - 32 juta ton.

"Jadi surplus Thailand lebih banyak, ya hukum ekonomi berlaku lah, suplai banyak demand tetap, otomatis harga murah. Apalagi Thailand dan Vietnam itu mereka berkompromi menentukan harga beras," katanya.

Dia menambahkan, kondisi iklim di Indonesia yang kemarau cenderung basah juga mendukung produksi beras untuk lebih banyak, sehingga mencukung rencana ekspor beras kepada negara yang butuh produk beras di Indonesia.

"Kita bisa coba ekspor ke Arab Saudi, mereka kan ada jamaah haji kita. Lalu ke Malaysia yang memang selama ini impor dari Vietnam dan Thailand, di sana juga ada dan buka kemungkinan ekspor ke sana," katanya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Pedagang Pasar Harap RI Tunda Ekspor Beras, Kenapa?


(dce)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading