RI Punya 'Harta Karun' Baru, Bisa Jadi Bisnis di Masa Depan

News - Verda Nano Setiawan, CNBC Indonesia
29 June 2022 19:56
Gambar Cover, Isu 'Harta Karun' Migas Foto: Arie Pratama

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia memiliki 'harta karun' baru. Dalam hal ini adalah energi Baru dari Hidrogen. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendorong agar pengembangan hidrogen hijau bisa dapat dilakukan untuk mempercepat transisi ke energi bersih, sekalipun dalam pengembangannya terdapat beberapa tantangan yang harus dilalui.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan hidrogen akan menjadi energi penting masa depan. Hal tersebut guna memastikan agar pencapaian target nol emisi bersih atau Net Zero Emission (NZE) di tahun 2060 atau lebih cepat dapat tercapai.

"Khususnya untuk pemanfaatan yang sulit digantikan dengan listrik. Teknologi sudah tersedia, sudah ada skala proyek komersial misalkan di Australia," ujar Dadan kepada CNBC Indonesia, baru-baru ini.


Menurut Dadan potensi dari hidrogen sendiri sangat terbuka lebar untuk dikembangkan, karena pada intinya adalah merubah air menjadi hidrogen dengan bantuan listrik melalui elektrolisa. Dengan catatan, Sumber listriknya berasal dari pembangkit listrik energi bersih.

"Nah yang penting adalah energinya berasal dari energi terbarukan," kata Dadan.

Seperti diketahui, hidrogen hijau dinilai sama pentingnya dengan penyimpanan baterai (energy storage) di masa mendatang. Tak hanya itu, pemerintah juga memberikan insentif keuangan bagi sektor publik maupun privat yang ingin mengoptimalkan hidrogen hijau.

Di Indonesia, pengembangan hidrogen hijau sejalan dengan potensi energi terbarukan yang sangat besar. Kementerian ESDM dan pemerintah Jerman melalui Deutsche Gesellschaft fur Internationale Zusammenarbeit GmbH (GIZ) telah mempelajari potensi pasar hidrogen hijau di Indonesia, sekitar 1.895 kT/tahun pada tahun 2021, termasuk untuk industri (Urea, Amonia, Refinery, Methanol), dan permintaan lainnya seperti pembuatan Biofuel, baja hijau, jaringan pulau, dan sel bahan bakar kendaraan berat.

Sebelumnya, Dadan menuturkan, terdapat beberapa rencana investasi hidrogen hijau dan proyek percontohan yang sedang berjalan di Indonesia saat ini. Diantaranya yaitu hibrida hidrogen hijau dari tenaga surya dan angin di Sumba Timur (7-8 MW), pilot project di Ulubelu dengan memanfaatkan kondensat panas bumi, rencana proyek di Kalimantan Utara dan Papua dari pembangkit listrik tenaga air besar, dan pemanfaatan hidrogen hijau di ibu kota baru pada tahun 2045 (4.000 untuk transportasi umum dan 21.000 Ton untuk sektor industri.

Meski demikian, Dadan mengungkapkan terdapat beberapa faktor keberhasilan dalam implementasi proyek hidrogen hijau. Mulai dari penetapan kebijakan, akses sumber daya, pasar potensial, standar, ketersediaan teknologi hingga dukungan finansial.

"Setiap negara memiliki karakteristik berbeda dalam pengembangan hidrogen hijau, tetapi memiliki kebutuhan teknologi dan pendanaan yang sama. Tantangannya, bagaimana hidrogen hijau layak secara ekonomi, menarik secara finansial, dan berguna bagi masyarakat," tegasnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Cianjur Punya Harta Karun Nomor 2 Dunia, Baru Dipakai 9%


(pgr/pgr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading