Simak Baik-baik! Bank Dunia Beberkan Kengerian Situasi Kini

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
22 June 2022 14:32
Bank Dunia

Jakarta, CNBC Indonesia - World Bank atau Bank Dunia mengatakan pemulihan ekonomi di Indonesia masih akan dibayangi oleh berbagai ketidakpastian global yang tinggi.

Direktur Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste, Satu Kahkonen mengatakan, serangan Rusia di Ukraina merupakan salah satu tantangan terbesar di seluruh dunia saat ini. Harga komoditas mengalami peningkatan tajam dan tampaknya akan terus berada pada tingkat yang tinggi selama satu tahun mendatang.


"Harga komoditas yang tinggi, inflasi global yang meningkat, bank-bank sentral di dunia kemudian menaikkan suku bunga kebijakan, serta perang antara Rusia dan Ukraina kemudian menyebabkan pertumbuhan ekonomi global berpotensi merosot," jelas Kahkonen dalam sebuah webinar, Rabu (22/6/2022).

Hal ini akan menjadi situasi berat bagi banyak negara. Terutama negara dengan kemampuan fiskal yang rendah dan bergantung pada utang. Sebab ketika lonjakan harga komoditas terjadi, pemerintah berperan dalam menjaga harga tidak naik sehingga terhindar dari peningkatan inflasi yang drastis.

Maka dari itu banyak ramalan mengenai sederet negara yang terancam alami kejatuhan ekonomi, baik dikarenakan krisis pangan, krisis energi maupun krisis keuangan.

Bank Dunia sebelumnya menyoroti keterbukaan negara-negara berpenghasilan rendah di Afrika. Menurut Bank Dunia 40% dari negara tersebut tidak menerbitkan laporan utang mereka lebih dari dua tahun.

Bank Dunia juga mencatat beban utang negara berpendapatan rendah naik 12% menjadi US$ 860 miliar pada 2020 di mana beban berat ditanggung negara-negara Sub Sahara Afrika.

Sub Sahara Afrika menjadi wilayah yang paling mengkhawatirkan karena banyaknya negara yang akan mengalami goncangan kenaikan harga dan utang akibat krisis ekonomi dan pandemi Covid-19.

"Lebih dari 60% wilayah Sub-Sahara Afrika memiliki risiko tinggi karena beban utang yang naik akibat pandemi. Pengetatan kondisi keuangan global akan sangat menyulitkan mereka dalam mengakses pembiayaan," tulis Bank Dunia dalam laporannya Global Economic Prospects.

Kendati demikian, Indonesia justru mendapatkan 'rejeki nomplok' dari harga komoditas yang meningkat, harga-harga di dalam negeri mulai naik dan pendanaan luar negeri menjadi lebih ketat.

Hal tersebut tentu akan memperberat tantangan kebijakan terkait dengan meningkatnya subsidi energi, serta halangan untuk mengambil langkah kebijakan moneter.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia setelah dimulainya pandemi berlangsung di tengah situasi global yang semakin sulit," ujar Kahkonen.

Pertumbuhan Ekonomi. (dok Bank Dunia)Foto: Pertumbuhan Ekonomi. (dok Bank Dunia)
Pertumbuhan Ekonomi. (dok Bank Dunia)

Pertumbuhan ekonomi diproyeksikan mengalami peningkatan di tahun 2022, perkembangan global terus menimbulkan risiko terjadinya penurunan yang signifikan, yang dapat berakibat besar bagi pemulihan jangka panjang Indonesia.

Menurut Kahkonen sangat penting bagi pemerintah dan otoritas untuk mempertahankan kebijakan reformasi struktural untuk mendukung pertumbuhan dan mengurangi ketergantungan terhadap stimulus makroekonomi jangka pendek.

Di sisi lain, sektor keuangan Indonesia saat ini masih sangat rentan terhadap risiko global, sehingga dapat menghambat peningkatan struktural pembangunan sektor keuangan.

Kendati demikian, sektor keuangan Indonesia telah menunjukan fundamental yang solid selama masa pandemi Covid-19. Misalnya saja, langkah pemerintah dan Bank Indonesia (BI) dalam bersinergi mengeluarkan krisis dari pandemi.

BI juga sudah memberikan likuiditas yang sangat longgar untuk mendorong perbankan menyalurkan kredit. Dengan langkah yang sudah diberikan oleh BI dan pemerintah ini, Kahkonen meyakini Indonesia masih memiliki kekuatan untuk menghadapi gejolak global saat ini.

Selain itu, subsidi energi dapat membantu menahan lonjakan harga dalam jangka pendek, adanya reformasi subsidi juga tetap diperlukan.

"Adanya rencana exit (exit plan) yang mendorong perubahan dari pemberian manfaat secara umum menjadi dukungan yang lebih terarah untuk masyarakat yang miskin dan rentan adalah hal yang penting," tutur Kahkonen.

Bank Dunia memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi di tahun ini bisa mencapai 5,1% dan 5,3% pada 2023 seiring dengan adanya tekanan terkait penurunan kondisi ekonomi global, inflasi yang lebih tinggi, dan pengetatan keuangan eksternal yang mulai membebani.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Rusia-Ukraina Perang, Ekonomi Dunia Diramal Anjlok Lagi


(cap/mij)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading