Ini Negara 'Rumah' Tesla di Asia, Indonesia Belum Nih...

News - Aulia Mutiara Hatia Putri, CNBC Indonesia
21 June 2022 13:06
Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan ke Space X di Boca Chica, Amerika Serikat, Sabtu, 14 Mei 2022. Presiden tiba di Space X sekitar pukul 10.30 waktu setempat disambut langsung oleh Elon Musk selaku founder Space X.(Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden) Foto: Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan ke Space X di Boca Chica, Amerika Serikat, Sabtu, 14 Mei 2022. Presiden tiba di Space X sekitar pukul 10.30 waktu setempat disambut langsung oleh Elon Musk selaku founder Space X.(Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Indonesia masih berusaha merayu Tesla untuk masuk berinvestasi di Tanah Air. Hal ini berlangsung sejak dua tahun lalu. Namun, sepertinya negosiasi berlangsung alot hingga belum menunjukkan titik terangnya.

Meski belum diketahui kapan negosiasi akan rampung, tetapi diketahui saat ini pemerintah tengah berusaha mengadakan konsolidasi internal.

"Kita berusaha investasi masuk secepatnya, kira-kira seperti itu," kata Deputi Bidang Pengembangan Iklim Penanaman Modal Kementerian Investasi/BKPM Yuliot kepada CNBC Indonesia, Senin (20/6/2022).


Demi memperlancar rayuan untuk mulusnya proses negosiasi, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga turut mengundang pendiri sekaligus bos besar Tesla, Elon Musk, ke KTT G-20, yang tahun ini diselenggarakan di Bali. Bukan tanpa alasan, di KTT G-20 nanti Indonesia akan mengangkat isu seksi Green Economy.

Program Ekonomi Hijau bertujuan untuk menciptakan perekonomian Indonesia yang menitikberatkan pada proteksi lingkungan dan bertujuan untuk melakukan transformasi sistem perekonomian Indonesia menuju perekonomian yang memancarkan gas rumah kaca lebih sedikit sekaligus mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Alotnya negosiasi menggambarkan begitu banyak aspek pertimbangan Elon Musk sebelum resmi berinvestasi ke Indonesia. Namun banyaknya potensi sumber daya alam bisa menjadi daya tawar kuat.

Indonesia sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara memiliki cadangan timah, tembaga, nikel, kobalt, dan bauksit yang melimpah, beberapa di antaranya merupakan bahan utama untuk baterai kendaraan listrik.

Produksi nikel Indonesia mencapai 1 juta ton. Unggul telak dari Filipina dan Rusia dengan produksi masing-masing 370.000 ton dan 250.000 ton.

Dengan cadangan dan produksi melimpah, nikel menjadi salah satu andalan ekspor Indonesia. Sepanjang semester-I 2021, ekspor nikel sebesar US$ 443.2 juta,

Selain nikel, Indonesia juga dikenal sebagai produsen timah terbesar di dunia selain China. Pada tahun 2020, produksi timah Indonesia mencapai 66.000 metrik ton dan cadangan 800.000 metrik ton.

Dari kekayaan alam yang dimiliki Indonesia, lalu apa yang membuat negosiasi tak berujung?

Berikut negara di Asia yang menjadi tuan rumah produk Tesla.

1. China

Area khusus Lingang adalah sebuah zona perdagangan bebas yang terletak di bagian selatan Shanghai. Pabrik Tesla ini merupakan fasilitas produksi pertama yang kepemilikiannya dimiliki asing secara penuh.

Dari pabrik tersebut, mereka telah memproduksi Tesla Model 3 dan Model Y. Mengenai performa penjualannya, sepanjang 2021 lalu, Tesla telah berhasil memproduksi sebanyak 484.130 unit kendaraan.

Tahun lalu, mobil Tesla buatan China menyumbang sekitar setengah dari 936.000 kendaraan yang dikirimkan secara global, berdasarkan perhitungan Reuters menggunakan data Asosiasi Mobil Penumpang China.

Produsen mobil listrik Tesla memulai pembangunan pabrik baru di Shanghai. Pabrik yang berpusat keuangan China akan memungkinkan Tesla untuk memproduksi hingga 2 juta unit per tahun.

Keputusan ini dibuat atas permintaan pasar yang cukup besar di negeri Tirai Bambu tersebut untuk memenuhi kebutuhan domestik ataupun ekspor. Penjualan Tesla telah melonjak di China dan pabriknya di Shanghai telah menjadi pusat ekspor penting ke pasar seperti Jerman dan Jepang.

Kenapa harus China? Musk mengungkapkan China dipilih karena telah menjadi pemain global pada kendaraan listrik.

"China juga menjadi pasar penting dalam mengakselerasikan transisi menuju energi berkelanjutan," ungkap Musk seperti dilansir dari The New York Times.

Climate Group, sebuah organisasi nirlaba yang berbasis di Inggris baru-baru ini melaporkan bahwa saat ini China merupakan salah satu produsen utama EBT dunia, dan diyakini dalam beberapa waktu mendatang akan menggeser posisi sejumlah negara maju dalam pengembanganclean energy technologies.

Hingga kini China 70% dari kebutuhan energi dalam negerinya masih tergantung kepada batu bara, namun China telah mencatatkan dirinya sebagai produsen utama teknologi photovoltaic (PV), di mana pada tahun lalu China telah memproduksi sekitar 820 MW tenaga PV dan menempatkan China ke posisi peringkat kedua setelah Jepang.

Kesungguhan Pemerintah China dalam mengembangkan EBT terutama didorong tekanan kebutuhan energi yang sangat besar dan untuk mengurangi ketergantungannya terhadap energi fosil.

2. Thailand

Kabar terbaru, Tesla resmi melebarkan sayap ke Thailand. Tesla Company (Thailand) Ltd telah teregistrasi sebagai perusahaan baru di negeri Gajah Putih itu dengan modal awal3 juta baht atau sekitar Rp1,28 miliar (asumsi kurs Rp426 per bath).

Departemen Pengembangan Bisnis Kementerian Perdagangan Thailand mengatakan bahwa Tesla (Thailand) Ltd. akan menjual kendaraan listrik (EV) termasuk mobil penumpang maupun truk pick-up.

Namun, produsen mobil listrik tersebut tampaknya hanya akan menjual kendaraan tanpa memproduksi atau merakit produknya di Thailand.

Masuknya Tesla ke Thailand selaras dengan kebijakan pemerintah negara itu yang mendorong penggunaan kendaraan listrik untuk mendukung transisi ke netralitas karbon. Pada Maret 2022, pemerintah Thailand menyetujui 3 miliar baht dari anggaran fiskal tahun 2022 untuk mendanai insentif pada kendaraan listrik, termasuk subsidi harga eceran dan pembebasan cukai.

Pemerintah Thailand juga telah mengembangkan rencana 10 tahun untuk industri otomotif agar beralih dari mobil yang menggunakan bahan bakar fosil ke EV. Di mana EV akan menyumbang setengah dari total produksi mobil pada 2023.

Menurut The Electric Vehicle Association of Thailand (EVAT), Thailand sudah mendaftarkan 5.781 EV baru untuk digunakan pada 2021 lalu, termasuk 3.673 sepeda motor listrik.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Elon Musk Cuan! Penjualan Tesla Pecah Rekor


(aum/aum)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading