Internasional

Rubel Kian Perkasa, Pemerintah Rusia Malah Khawatir

News - luc, CNBC Indonesia
16 June 2022 06:30
Rubel Rusia Foto: Reuters

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang rubel Rusia terus menunjukkan keperkasaannya di hadapan dolar AS. Namun, kenaikan nilai mata uang Negeri Beruang Merah tersebut dinilai terlalu tinggi.

Wakil Perdana Menteri Pertama Rusia Andrei Belousov mengatakan rubel dinilai terlalu tinggi dan industri akan lebih nyaman jika nilainya jatuh ke antara 70-80/US$ dari kisaran 57/US$ saat ini.

Belousov mengatakan inflasi Rusia secara tahunan pada akhir 2022 akan berada di sekitar 15%. Adapun pada 10 Juni, inflasi mencapai 16,69%.


Sementara itu, mata uang tetap mendekati level tertinggi dalam beberapa tahun berkat lonjakan surplus transaksi berjalan Rusia dan kontrol modal yang diperkenalkan Moskow menyusul pengenaan sejumlah sanksi oleh negara-negara Barat.

"Rubel kami terlalu kuat. 55-60 rubel per dolar terlalu kuat, terutama dengan latar belakang deflasi dan suku bunga tinggi," kata Belousov kepada kantor berita Rusia, TASS, dikutip Reuters, Kamis (16/6/2022).

"Ekuilibrium, nyaman untuk industri kami, adalah tingkat antara 70 sampai 80 rubel per dolar," imbuhnya.

Mata uang rubel Rusia mencapai level tertinggi terhadap euro dan dolar Amerika Serikat (AS) dalam tiga pekan terakhir. Pada Selasa (14/6/2022) pukul 21:15 WIB, rubel terpantau menguat meskipun bayangan krisis ekonomi makin nyata.

Mata uang negara yang dipimpin Presiden Vladimir Putin itu menguat menguat 1,8% terhadap euro di RUB 59,03/EUR. Sedangkan terhadap dolar AS, rubel mencatatkan penguatan 0,4% di RUB 56,54/US$.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

'Bom' Balas Dendam Putin Beneran Ampuh, Eropa Sampai Pecah!


(luc/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading