Internasional

Waduh! AS Krisis Tampon, Transgender Disebut Biang Keladinya

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
14 June 2022 17:20
The United State flag is silhouetted against the setting sun Sunday, May 28, 2017, in Leavenworth, Kan. (AP Photo/Charlie Riedel) Foto: Bendera Amerika Serikat (AP Photo/Charlie Riedel)

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) tengah menghadapi kekurangan produk sanitasi seperti tampon. Kekurangan ini disebut-sebut akibat adanya transgender.

Hal itu diungkapkan Marjorie Taylor Greene, anggota DPR dari Partai Republik di negara bagian Georgia menuturkan kekurangan tampon secara nasional didorong oleh produk tampon yang mulai ditempatkan di kamar mandi pria untuk para transgender.

"Sekarang ada kekurangan tampon, dan itu mungkin karena pria membeli tampon," kata Greene dalam diskusi tentang komunitas transgender, menyebutnya sebagai "perang melawan wanita" pada Senin (13/6/2022), dikutip dari Newsweek.


Sebagaimana diketahui, beberapa bisnis, sekolah dan tempat umum lainnya di AS memang mulai menyiapkan secara gratis produk sanitasi, termasuk tampon di kamar mandi pria.

Berbeda dengan pernyataan Greene, para ahli telah menunjuk inflasi dan kenaikan biaya produksi sebagai penyebab kekurangan tampon di AS saat ini.

Kapas dan plastik, dua bahan yang digunakan dalam produksi tampon, menjadi lebih mahal karena permintaan pembuatan alat keselamatan Covid-19 seperti masker, menurut laporan CNN. Masalah ini makin diperburuk oleh perang Rusia-Ukraina karena kedua negara adalah eksportir utama pupuk.

Inflasi juga telah menaikkan harga produk menstruasi. Pada 28 Mei, harga naik 9,8% untuk tampon dan 8,3% untuk paket pembalut, menurut laporan Bloomberg yang mengutip data NielsenIQ.

Procter & Gamble (P&G), perusahaan yang memproduksi produk tampon Tampax, mengatakan kepada majalah Time awal Juni bahwa kampanye iklan dari Juli 2020 yang menampilkan komedian Amy Schumer menyebabkan permintaan naik 7,7% dan perusahaan terpaksa menjalankan pabriknya selama 24 jam/7 hari penuh untuk memenuhi peningkatan permintaan.

"Kami dapat meyakinkan Anda bahwa ini adalah situasi sementara," kata perusahaan yang menjual sekitar 4,5 miliar kotak tampon secara global setiap tahun, dikutip dari BBC.

Kepala keuangan P&G, Andre Schulten mengatakan pada panggilan pendapatan baru-baru ini mereka menghadapi harga "mahal dan sangat tidak stabil" saat memperoleh bahan baku seperti kapas dan plastik untuk tampon.

Transgender dari pria ke wanita memang dapat mengalami pendarahan vagina dan bercak setelah memulai terapi testosteron, menurut studi bertajuk 'Vaginal bleeding and spotting in transgender men after initiation of testosterone therapy: A prospective cohort study (ENIGI)' yang diterbitkan melalui National Center for Biotechnology Information (NCBI) pada 12 Februari 2020.

Menurut studi tersebut, setelah tiga bulan terapi testosteron, 17,9% pria transgender melaporkan pendarahan vagina persisten dan 26,8% melaporkan mengalami bercak seperti menstruasi pada umumnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Perang Rusia-Ukraina Makan Korban, Ini Dampak ke Eropa-Asia


(tfa/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading