Pertalite dan Listrik Tak Naik, Yakin Inflasi Tidak 'Liar'?

News - Maesaroh, CNBC Indonesia
23 May 2022 15:20
Antrean normal pengisian bahan bakar di SPBU.

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah memutuskan untuk mempertahankan harga Pertalite, Solar, Elpiji 3 Kg, serta tarif dasar listrik untuk kelompok kurang mampu. Langkah ini diperkirakan cukup efektif untuk menahan laju kencang inflasi.

Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman memperkirakan laju inflasi akan bergerak di kisaran 3,5-3,8% pada tahun ini. Laju inflasi tersebut jauh lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya yakni 4,06%.

Bank Mandiri, pada awal tahun,  memperkirakan inflasi ada di angka 3,3% untuk 2022. Pada April, mereka merevisi ke atas proyeksi inflasi menjadi 4,06% seiring lonjakan harga komoditas pangan dan energi akibat perang Rusia-Ukraina.


"inflasi akan lebih rendah. Hitungan sementara kami di 3,5-3,8%," tutur Faisal kepada CNBC Indonesia.


Dia menjelaskan kelompok harga diatur pemerintah seperti BBM dan listrik berkontribusi besar terhadap pergerakan inflasi. Karena itulah, harga kelompok tersebut yang tidak berubah akan sedikit mendinginkan laju inflasi.

Dalam catatan Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi April menembus 0,95% (month to month/mtm) dan 3,47% (year on year/yoy). Kenaikan Pertamax memberikan andil inflasi 0,15% terhadap inflasi April 2022. Sebagai catatan, per 1 April, pemerintah menaikkan harga Pertamax menjadi Rp 12.500-13.000 per liter dari sebelumnya Rp 9.000-9.400 per liter.

"Bobot listrik, LPG dan bahan bakar subsidi lumayan besar dan akan ada dampak second round impact-nya," imbuh Faisal.

Merujuk data BPS, dampak lanjutan (second round effect) dari kenaikan BBM biasanya lebih besar dibandingkan bulan berikutnya. Pada November 2014, pemerintah menaikkan harga BBM sekitar 30%. Inflasi November tercatat 1,50% (mtm) sementara inflasi Desember menembus 2,46% (mtm).

Pada 2013, pemerintah menaikkan harga BBM pada Juni. Inflasi Juni 2013 tercatat 1,02% (mtm) tetapi pada Juli melonjak melonjak 3,29% (mtm).




Ekonom DBS Radhika Rao mengatakan inflasi akan melonjak menjadi 4,2-4,3% jika pemerintah menaikkan harga BBM dan LPG sebesar 10%. Inflasi akan melonjak menjadi 5,5% jika kenaikan energi mencapai 25%.

"Kami memperkirakan inflasi ada di angka 3,6% dengan catatan tidak ada kenaikan apapun," tutur Radhika dalam laporannya Indonesia: Fuel Prices, Subsidies, and Inflation - Balancing Act.

Sebagai informasi, Kamis (19/5/2022), Menteri Keuangan Sri Mulyani menegaskan pemerintah tidak akan menaikkan harga BBM, LPG, serta tarif dasar listrik untuk kelompok kurang mampu. Sebagai kompensasinya, pemerintah akan menambah anggaran subsidi energi sebesar Rp 74,9 triliun.

Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) juga sepakat untuk menambah alokasi pembayaran kompensasi BBM dan listrik sebesar Rp 275 triliun. Kompensasi akan terbagi sebesar Rp 234 triliun untuk BBM dan listrik sebesar Rp 41 triliun.

DPR dan pemerintah juga akan menambah anggaran perlindungan sosial sebesar Rp 18,6 triliun untuk menjaga daya beli masyarakat. Namun, Sri Mulyani mengatakan pemerintah masih akan menaikkan tarif listrik bagi pelanggan 3.000 Volt Ampere (VA) ke atas.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Inflasi Maret Diramal Sentuh Rekor Baru! Efek Perang Nih...


(mae/mae)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading