Situasi China Memburuk, Kok Lampu Kuning Bagi RI?

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
19 May 2022 14:15
Pertemuan Jokowi dan Xi Jinping di G20 (Biro Pers Kesekretariat Presiden/Laily Rachev)

Jakarta, CNBC Indonesia - Penularan kasus Covid-19 di China saat ini kian bertambah, penguncian wilayah atau lockdown kembali diberlakukan. penjualan ritel dan produksi industri ikut anjlok.

Hal tersebut dikhawatirkan akan merembet terhadap perekonomian tanah air, mengingat China sebagai mitra dagang utama Indonesia.


Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), perdagangan Indonesia dengan China dalam bulan Maret dan April 2022 mengalami surplus. Pada April 2022 surplus dengan China mencapai US$ 0,18 miliar, menurun dibandingkan dengan surplus pada Maret 2022 yang sebesar US$ 0,94 miliar.

Ekonom Bank BCA David Sumual menyatakan, imbas memburuknya kondisi China akan terlihat pada harga barang di Indonesia. Apalagi Indonesia masih bergantung pada impor barang jadi atau konsumsi dan setengah jadi dari China.

"Kita tahu banyak bahan setengah jadi dan konsumsi asalnya dari China," ujarnya kepada CNBC Indonesia, dikutip Kamis (19/5/2022).

Barang konsumsi yang patut diperhatikan adalah pangan. Harga pangan melambung tinggi sejak beberapa bulan terakhir sehingga mendorong kenaikan inflasi. Terutama akibat terhentinya pasokan pasca perang Rusia dan Ukraina.

"Kira harus antisipasi pangan. Banyak negara me-secure menjaga ketersediaan bahan pangan, salah satunya India, yang stop ekspor gandum setelah Rusia, Ukraina dan Australia," jelasnya.

Sepanjang Januari-April 2022, berdasarkan data BPS komoditas pangan yang diimpor dari China diantaranya cabe, bawang putih, minyak goreng nabati, teh, dan tembakau.

Bahkan, BPS juga mencatat impor sayuran turut melonjak pada periode April 2022, bertepatan dengan periode Lebaran. China hingga Mesir adalah pemasok terbesar.

Kepala BPS Margo Yuwono mengungkapkan impor terbesar RI pada April 2022 adalah sayuran dengan nilai mencapai US$ 63,6 juta atau meningkat 111,8%. "Negara asal barangnya dari China, Myanmar, dan Mesir," ujarnya dalam konferensi pers, Selasa (17/5/2022).

Inflasi April 2022 tercatat sebesar 0,95% (mtm) atau 3,47% (yoy). Komponen harga bergejolak (volatile food/VF) menjadi penyumbang utama inflasi April dengan andil 0,39% dan mengalami inflasi sebesar 2,30% (mtm) didorong oleh peningkatan harga al. minyak goreng, daging ayam ras, dan telur ayam ras.

Komponen inflasi harga diatur Pemerintah (administered prices/AP) mengalami inflasi sebesar 1,83% (mtm), 4,83% (yoy) disebabkan adanya kenaikan bensin jenis pertamax dan tarif angkutan udara. Sementara itu, inflasi inti tercatat sebesar 0,36% (mtm) atau 2,60% (yoy).

David memperkirakan inflasi tahun ini akan mencapai 4,2% atau lebih tinggi dari asumsi pemerintah dan Bank Indonesia (BI). Belum termasuk adanya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan LPG serta tarif listrik. "Kalau semua sekaligus naik, parah," ujarnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Jreeengg! Ekonomi RI Kini Selevel AS, Korsel dan China


(cap/mij)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading