Internasional

Pentagon: Putin Ogah Perang dengan NATO, Rusia Pasti Kalah

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
13 May 2022 07:50
Russian President Vladimir Putin and Defence Minister Sergei Shoigu walk after a military parade on Victory Day, which marks the 77th anniversary of the victory over Nazi Germany in World War Two, in Red Square in central Moscow, Russia May 9, 2022. REUTERS/Maxim Shemetov

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pertahanan (Menhan) Amerika Serikat (AS) Lloyd Austin menyebut Rusia tidak akan berani untuk berperang melawan aliansi pertahanan NATO. Pasalnya, NATO memiliki kekuatan yang besar sehingga memungkinkan Negeri Beruang Merah itu untuk kalah dalam peperangan.

Hal ini disampaikan Austin di hadapan Subkomite Alokasi DPR untuk Pertahanan, Kamis (12/5/2022). Saat itu, Austin ditanya oleh Perwakilan Republik Harold Rogers dari Kentucky tentang skenario hipotesis Presiden Rusia Vladimir Putin meluncurkan serangan ke Polandia yang merupakan anggota NATO.


"Jika Rusia memutuskan untuk menyerang negara mana pun yang merupakan anggota NATO, maka itu adalah pengubah permainan," jawab Austin dikutip Newsweek.

"Tetapi jika Anda melihat kalkulasi Putin, pandangan saya adalah bahwa Rusia tidak ingin mengambil langkah terhadap aliansi NATO."

Austin menambahkan bahwa NATO memiliki jumlah pasukan yang besar, yakni mencapai 1,9 juta personel militer. Aliansi yang dipatroni Washington itu, menurutnya, juga memiliki kemampuan paling canggih di dunia dalam hal pesawat, kapal, dan jenis persenjataan yang digunakan pasukan darat.

"Jadi, ini adalah pertarungan yang dia (Putin) benar-benar tidak ingin alami dan itu akan dengan cepat meningkat menjadi jenis kompetisi lain yang tidak ingin dilihat siapapun," tambahnya.

Meski begitu, Austin menambahkan bahwa saat ini pihaknya siap bila memang eskalasi besar dengan Rusia terjadi. Ia menyebut Pentagon selalu memantau situasi dari hari ke hari.

"Kami sangat mampu menanggapi segala bentuk atau mode eskalasi jika diarahkan oleh presiden."

Komentar Austin ini sendiri muncul setelah Putin dan pejabatnya di Kremlin mengancam NATO dan AS pada akhir April lalu. Putin mengatakan posisi NATO dan AS yang membantu Ukraina telah mengganggu serangan militernya. Ia sempat berjanji untuk memberikan balasan yang 'secepat kilat' kepada setiap negara yang membantu Ukraina.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov mengatakan kepada kantor berita pemerintah TASS pada 13 April bahwa Rusia akan mempertimbangkan kendaraan AS dan NATO yang mengangkut senjata di wilayah Ukraina sebagai "target militer yang sah."

Tak hanya itu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov juga mengangkat aliansi Barat itu saat wawancara 25 April lalu dengan mengatakan, "NATO pada dasarnya akan berperang dengan Rusia melalui proxy dan mempersenjatai proxy itu. Perang berarti perang."

Bahkan sebelum Rusia memulai serangannya ke Ukraina pada 24 Februari, Putin membuat peringatan publik serupa kepada NATO. November lalu, ia mengatakan negaranya akan merespons jika NATO melewati "garis merah" dengan memberikan Ukraina sistem serangan rudal tertentu.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Awas Putin Ngamuk! Tetangga Rusia Ini Pertimbangkan Ikut NATO


(luc/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading