Gas Melimpah Tapi RI Lebih Pilih Impor BBM, Tanda Apa?

News - Verda Nano Setiawan, CNBC Indonesia
12 May 2022 15:55
Petugas melakukan pengisian Bahan Bakar Gas di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) di Jl. Kapten Tendean, Rabu (11/5/2022). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia mempunyai potensi sumber gas bumi yang cukup melimpah dan belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal jika pemerintah serius untuk menekan impor BBM, program konversi kendaraan BBM ke bahan bakar gas (BBG) bisa menjadi alternatif.

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi menilai bahwa kebijakan pemerintah yang terus berubah-ubah membuat upaya untuk meninggalkan impor BBM semakin lama. Pasalnya, sebelum gencar menggenjot pengembangan ekosistem mobil listrik pemerintah sudah mempunyai program konversi BBG.

"Kemudian Pertamina mencoba juga dengan B20, B30 kemudian gasifikasi belum selesai udah coba lagi. Menurut saya ada dua hal. Pertama menunjukkan pemerintah gak serius untuk migrasi dari energi fosil ke energi bersih termasuk gas," katanya kepada CNBC Indonesia, Kamis (12/5/2022).


Lebih lanjut, Fahmi menilai bahwa harga BBG saat ini memang jauh lebih murah dibandingkan BBM. Pasalnya, Indonesia memiliki sumber gas yang cukup besar.

Namun demikian, dalam menggenjot program konversi BBG ini, setidaknya pemerintah perlu membangun berbagai infrastruktur. Misalnya infrastruktur terkait distribusi gas dan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) yang itu membutuhkan investasi jumbo.

"Investor itu butuh investasi yang besar teknologi juga. Sementara keekonomian belum mencapai. Mestinya menurut saya BUMN energi mestinya bisa memberikan contoh supaya gencar mereka investasi, Pertamina sudah lakukan tapi belum optimal Kalau itu sudah berhasil saya yakin investor lain jadi follower," katanya.

Untuk diketahui, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) secara resmi mengerek harga jual Bahan Bakar Gas (BBM) di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) menjadi Rp 4.500 untuk satu liter setara premium (lsp) dari sebelumnya Rp 3.100 per lsp.

Hal itu tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 82 Tahun 2022 tentang Harga Jual Bahan Bakar Gas yang Digunakan Untuk Transportasi.

Dengan terbitnya Kepmen ESDM 82/2022 ini, Kepmen ESDM Nomor 2932 tahun 2010 dicabut. Artinya, ketentuan harga jual bahan bakar gas senilai Rp 3.100 per lsp itu sudah tidak berlaku lagi.

Dalam Kepmen 82/2022 ini menyatakan, harga jual bahan bakar gas yang digunakan untuk transportasi adalah untuk bahan bakar gas berupa compressed natural gas (CNG) yang diperuntukkan bagi kendaraan bermotor untuk transportasi jalan.

"Harga jual BBG yang digunakan untuk transportasi pada Stasiun Pengisian bahan Bakar gas di wilayah negara kesatuan Republik Indonesia adalah sebesar Rp 4.500 untuk tiap satu liter setara premium (lsp) termasuk pajak-pajak," terang Kepmen 82/2022 yang diteken Menteri ESDM Arifin Tasrif pada 19 April 2022.

Dengan ketentuan itu, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM akan melakukan monitoring dan pengawasan atas pelaksanaan penerapan harga jual bahan bakar gas untuk transportasi.

"Keputusan Menteri ini berlaku mulai pada tanggal 1 Mei 2022," tandas beleid anyar ini.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Harga Bahan Bakar Gas Naik, Tetap Lebih Murah Dibanding BBM?


(pgr/pgr)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading