Biodiesel Pemicu Kisruh Minyak Goreng? Cek Konsumsi Sawitnya

News - Wilda Asmarini, CNBC Indonesia
11 May 2022 18:55
A worker unloads oil palms at a plantation outside Kuala Lumpur January 29, 2007. REUTERS/Bazuki Muhammad Foto: REUTERS/Bazuki Muhammad

Jakarta, CNBC Indonesia - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) menyangkal tuduhan dari sejumlah pihak bahwa biodiesel mengganggu pasokan minyak goreng di dalam negeri.

Ketua Harian Aprobi Paulus Tjakrawan menjelaskan, kebutuhan minyak sawit untuk biodiesel pada tahun ini hanya sebesar 8,4 juta ton. Jumlah ini hanya sekitar 16% dari total produksi minyak sawit nasional pada 2022 ini yang ditargetkan mencapai 52 juta ton.

Jumlah ini naik tipis dari proporsi penggunaan minyak sawit untuk biodiesel pada 2021 yang sekitar 15%. Adapun produksi minyak sawit nasional pada 2021 disebutkan mencapai 48,09 juta ton. Dia menyebut, sebagian besar konsumsi sawit di dalam negeri digunakan untuk kebutuhan makan, terutama minyak goreng.

"Biodiesel tidak mengganggu penggunaan sawit untuk minyak goreng. Pada 2022, total produksi sawit nasional mencapai 52 juta ton. Sementara itu, kebutuhan sawit untuk biodiesel 8,4 juta ton. Ini artinya, pasokan sawit sangat mencukupi kebutuhan untuk pangan dan energi," jelasnya, seperti dikutip dari keterangan resmi Asosiasi, Selasa (10/05/2022).

Berdasarkan data bulanan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) per 20 April 2022, stok minyak sawit di dalam negeri dari Januari sampai Februari mencapai 5,04 juta ton.

Jumlah ini berasal dari stok awal 4,12 juta ton, ditambah produksi CPO/PKO 8,06 juta ton, setelah dikurangi konsumsi lokal 2,88 juta ton dan ekspor 4,27 juta ton. Untuk konsumsi lokal, penggunaan sawit untuk pangan (minyak goreng) sebanyak 1,56 juta ton dan pemakaian untuk biodiesel sebanyak 2,1 juta ton.

Paulus menyebut, produksi dan konsumsi biodiesel setidaknya dalam 10 tahun terakhir memiliki tren positif. Dari sisi produksi, kapasitas produksi biodiesel pada 2021 telah mencapai 16,6 juta kilo liter (kl).

Dari sisi konsumsi atau penyaluran biodiesel, dia menyebut, berdasarkan data Aprobi, penyaluran campuran biodiesel 30% pada Solar (B30) pada 2020 mencapai 8,43 juta kilo liter (kl), lalu pada 2021 naik tipis menjadi 8,44 juta kl meski di tengah pandemi Covid-19.

Pada 2022, alokasi penyaluran B30 diproyeksikan sebesar 10,15 juta kl.

"Biodiesel menjadi bagian untuk mempercepat program transisi energi nasional. Pengembangan energi berbasis sawit terus berjalan seperti biohidrokarbon. Dari pengembangan biohidrokarbon dapat menghasilkan gasoline dan bahan bakar pesawat terbang berbasis sawit," jelasnya.

Dari aspek lingkungan, imbuhnya, kontribusi penggunaan B30 dapat menekan emisi gas rumah kaca sebesar 22,59 juta ton CO2 sepanjang 2021. Menurutnya, program B30 sangat efektif bagi kebutuhan prioritas nasional untuk mengurangi emisi sekaligus mengurangi ketergantungan pada energi fosil, khususnya di sektor transportasi.

Pemanfaatan biodiesel menurutnya juga menghemat devisa negara. Paulus mengatakan, program B30 menekan pengeluaran negara sebesar US$ 3,8 miliar dari impor Solar. Indonesia secara bertahap mengurangi impor solar semenjak program bioenergi/biodiesel dijalankan sampai saat ini B30.

Mandatori biodiesel juga efektif meningkatkan serapan sawit domestik ketika terjadi pelemahan permintaan di pasar global . Paulus mengatakan penggunaan biodiesel membantu peningkatan kesejahteraan petani setelah adanya keseimbangan antara konsumsi domestik dan ekspor. Dampak positifnya adalah stabilitas harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit petani di dalam negeri. Bahkan semenjak tahun lalu hingga Maret kemarin, harga TBS petani rerata di atas Rp 3.000/kilogram.

"Tidak benar kalau dikatakan biodiesel menguntungkan korporasi. Di lapangan, program ini juga menopang kenaikan harga buah sawit petani," ujarnya.

Berkaitan persoalan hukum pengurusnya di Kejaksaan Agung RI, menurutnya Asosiasi menyerahkan sepenuhnya persoalan ini kepada proses hukum yang sedang berjalan. Paulus menyebutkan pihaknya menghormati putusan Kejaksaan Agung untuk mengungkap polemik masalah minyak goreng.

"Harapannya masyarakat menunggu hasil penyelidikan Kejaksaan Agung dengan tetap mengutamakan asas praduga tak bersalah. Di satu sisi, kami yakin mereka (tersangka Kejaksaan Agung) punya itikad untuk mematuhi regulasi dan peraturan yang ditetapkan pemerintah," ungkapnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Harga CPO Bakal Lanjut Terbang, Ini Penyebabnya!


(wia)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading