Bisa Jadi Raja Baterai, Harta Karun RI Ini Tembus Rp 8.000 T!

News - Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
11 May 2022 16:10
A worker uses the tapping process to separate nickel ore from other elements at a nickel processing plant in Sorowako, South Sulawesi Province, Indonesia March 1, 2012. REUTERS/Yusuf Ahmad

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia bercita-cita menjadi raja baterai kendaraan listrik di dunia. Bukan tanpa alasan, besarnya cadangan nikel di Tanah Air, bahkan merupakan pemilik cadangan nikel terbesar di dunia, membuat Indonesia kian percaya diri untuk mengembangkan industri hilir nikel hingga menjadi baterai kendaraan listrik.

Namun demikian, nikel bukanlah satu satunya logam yang dibutuhkan sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV). Ada mineral penting lainnya dalam komponen baterai kendaraan listrik ini. Mineral lain pendamping nikel yang dimaksud ini yaitu kobalt.

Lantas, berapa besar potensi kobalt Indonesia? Apakah mampu membuat mimpi Indonesia menjadi raja baterai terwujud?


Baterai NMC, yang menyumbang 72% dari baterai EV pada tahun 2020 (tidak termasuk China), memiliki katoda yang terdiri dari nikel, mangan, dan kobalt.

Komposisi katoda baterai NMC 811 terdiri dari 80% nikel, 10% kobalt, dan 10% mangan. Sementara untuk jenis NMC523, unsur kobalt lebih banyak. Komposisinya 50% nikel. 30% kobalt, dan 20% mangan.

Kandungan nikel yang lebih tinggi dalam baterai ini cenderung meningkatkan kepadatan energinya atau jumlah energi yang disimpan per unit volume untuk meningkatkan jarak tempuh EV. Kobalt dan mangan sering bertindak sebagai stabilisator dalam baterai NMC untuk meningkatkan keamanannya.

Komposisi Logam di Baterai EVFoto: Mining.com
Komposisi Logam di Baterai EV

Indonesia sendiri memiliki sumber daya kobalt yang cukup besar, baik bijih maupun yang sudah diproses menjadi logam.

Perkembangan sumber daya dan cadangan kobalt tahun 2017 hingga 2021 relatif landai.

Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sumber daya bijih kobalt Indonesia pada tahun 2021 mencapai 3,28 miliar ton basah (wet metric ton/wmt). Sementara jumlah cadangannya sebesar 682,4 juta wmt. Sementara sumber daya logam kobalt mencapai 7,45 juta ton dengan cadangan mencapai 484.480 ton.

Sumber Daya Kobalt IndonesiaFoto: ESDM
Sumber Daya Kobalt Indonesia

Sumber daya kobalt Indonesia tampaknya cukup menarik hati investor. Perusahaan asal China, Zhejiang Huayou Cobalt Co menyatakan minat untuk berinvestasi membangun smelter kobalt dan nikel di Indonesia. Nilai investasinya ditaksir senilai US$ 2,08 miliar atau sekitar Rp 29,74 triliun (asumsi kurs Rp 14.300/US$).

Jika terealisasi, ini akan jadi proyek peleburan ketiga Huayou di Indonesia, setelah sebelumnya bermitra dengan Tsingshan Holding Group membangun smelter nikel sulfat di Weda Bay, Halmahera, Maluku Utara.

"Perusahaan menargetkan memproduksi 120.000 ton nikel dan 15.000 ton kobalt setiap tahun," tulis laporan Huayou ke Shanghai Stock Exchange, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (11/5/2022).

Kobalt adalah salah satu logam bernilai tinggi. Pada 10 Mei 2022, harga kobalt dunia tercatat US$ 82.000/ton. Dengan begitu, potensi nilai sumber daya kobalt Indonesia diperkirakan mencapai US$ 610 miliar atau Rp 8.732 triliun.

Harga Kobalt DuniaFoto: tradingeconomics
Harga Kobalt Dunia

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Keras! Jokowi: Sejak Zaman VOC Ekspor Barang Mentah, Hentikan


(ras/ras)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading