Internasional

WTO Beri Peringatan Baru Soal Ekonomi Global, Apa Tuh?

News - Lucky Leonard Leatemia, CNBC Indonesia
28 April 2022 10:45
Pekerja melakukan pendataan bongkar muat kontainer peti kemas di Terminal 3 Tanjung Priok, Jakarta, Senin (22/11/2021). Pemulihan ekonomi global dari pandemi Covid - 19 dinilai lebih cepat dari yang diekspektasi banyak pihak. Sehingga produksi dan perdagangan melonjak signifikan yang membuat ketidakseimbangan pasar, yang berimbas pada kekurangan bahan baku dan kelangkaan kontainer.. (CNBC Indonesia/ Muhammad Tri Susilo) Foto: Aktivitas Bongkar Muat Kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok, Senin (22/11/2021). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) memberikan peringatan terkait kondisi ekonomi global yang tak menentu. Sejumlah negara rentan terancam mengalami kemunduran ekonomi.

Melansir Reuters, Kamis (28/4/2022), Direktur Jenderal WTO Ngozi Okonjo-Iweala mengatakan fragmentasi ekonomi global dan mundurnya perdagangan global akan membuat negara-negara lebih rentan terhadap guncangan produksi yang timbul dari bencana alam dan wabah penyakit.

Dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh Dewan Perdagangan Luar Negeri Nasional, dia menjelaskan bahwa para ekonom memperkirakan fragmentasi ekonomi global dapat mengurangi produk domestik bruto (PDB) global sebesar 5% dalam jangka panjang.

Menurutnya, kerugian itu akan diperparah dengan biaya transaksi yang lebih tinggi dan kesulitan neraca pembayaran.

Hal ini juga akan membuat sejumlah negara lebih sulit untuk mengatasi masalah perubahan iklim atau menstabilkan pasar pangan dan pupuk global yang telah sangat terganggu oleh perang di Ukraina.

Adapun, perubahan iklim rupanya dapat menghilangkan 4% dari output ekonomi tahunan global pada tahun 2050, menurut perkiraan sebuah studi baru dari 135 negara.

S&P Global menerbitkan laporan kemungkinan dampak kenaikan permukaan laut, dan gelombang panas, kekeringan, dan badai yang lebih teratur pada Selasa (26/4/2022). Perusahaan pemeringkat ini memberikan skor kredit kepada negara-negara berdasarkan kesehatan ekonomi mereka.

"Untuk tingkat yang berbeda, ini adalah masalah bagi dunia," kata analis kredit pemerintah S&P, Roberto Sifon-Arevalo.

"Satu hal yang benar-benar menonjol adalah kebutuhan akan dukungan internasional untuk banyak dari bagian dunia (yang lebih miskin) ini".


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

WTO Melunak, Bakal Setujui Produksi Vaksin Tanpa Hak Paten?


(luc/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading