Puluhan Triliun Cuan dari Minyak, Harga Pertalite Tetap Naik?

News - Verda Nano Setiawan, CNBC Indonesia
22 April 2022 18:40
TOPIK_MAJU MUNDUR BBM

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah sempat menggaungkan rencana menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis bensin Pertalite (RON 90) dan Solar subsidi. Alasannya, lonjakan harga minyak dunia mendorong lonjakan keekonomian harga BBM. Bila tidak dilakukan penyesuaian harga jual, maka subsidi energi diperkirakan akan semakin membengkak.

Namun di sisi lain, nyatanya lonjakan harga minyak juga berdampak pada melonjaknya penerimaan negara dari sisi hulu minyak dan gas bumi (migas).

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyebut, penerimaan negara dari sisi hulu migas pada kuartal I 2022 tercatat mencapai US$ 4,4 miliar atau sekitar Rp 62,9 triliun (asumsi kurs Rp 14.300 per US$).


Jumlah penerimaan negara pada kuartal I 2022 ini telah mencapai 44% dari target penerimaan negara tahun ini sebesar US$ 9,95 miliar. Ini artinya, baru tiga bulan berjalan, namun penerimaan negara sudah nyaris separuh dari target setahun penuh.

"Penerimaan negara cukup besar di Q1 2022 sudah mencapai 44% dari target setahun jadi US$ 4,4 miliar," ungkap Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto dalam konferensi pers, Jumat (22/04/2022).

Dia menyebut, penerimaan negara ini tak terlepas dari lonjakan harga minyak. Dia menyebut, harga rata-rata minyak mentah Brent pada Maret mencapai US$ 112,46 per barel, bahkan sempat menyentuh US$ 127,98 per barel pada 8 Maret 2022 lalu.

Sementara asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 ditetapkan sebesar US$ 63 per barel.

Begitu juga dengan harga gas alam cair (LNG). Harga gas global kini juga mengalami peningkatan hingga di atas US$ 25 per juta British thermal unit (MMBTU).

"Untuk jangka panjang, diperkirakan harga gas Asia masih mendekati US$ 10 per MMBTU, lebih tinggi dari Eropa dan US," ucapnya.

Namun sayangnya dari sisi produksi terangkut (lifting) minyak dan gas bumi pada kuartal I 2022 ini masih di bawah target.

Lifting minyak pada selama Januari-Maret 2022 rata-rata mencapai 611,7 ribu barel per hari (bph), lebih rendah dari target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 sebesar 703 ribu bph.

Begitu juga dengan lifting gas, rata-rata kuartal I masih sebesar 5.321 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD), lebih rendah dari target 5.800 MMSCFD.

Bila lifting migas ini bisa semakin ditingkatkan, maka ke depannya tak menutup kemungkinan penerimaan negara bisa menjadi lebih besar lagi. Terlebih, SKK Migas memperkirakan harga minyak dunia masih akan bertahan di level di atas US$ 100 per barel selama 2022-2023 mendatang.

"Beberapa analisa masih melihat harga ini naik turun, ada yang analisa cukup tinggi kenaikannya. Dari sisi forecast, karena pandemi Covid-19 akan semakin mereda, sehingga travelling akan sangat meningkat tajam, kegiatan bisnis meningkat tajam akan memengaruhi demand. Di sisi lain suplai terganggu krisis Rusia-Ukraina, sehingga harga diperkirakan masih akan cukup tinggi dalam satu dua tahun ke depan. 2022-2023 diperkirakan masih akan US$ 100 per barel," paparnya.

Lantas, apakah pemerintah benar-benar akan menaikkan harga Pertalite dalam waktu dekat ini?

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, konsentrasi pemerintah saat ini yaitu pada pemulihan ekonomi negara. Ketika tiba-tiba ada kejadian luar biasa seperti perang di negara lain, maka ini menambah risiko perekonomian negara ini.

Lonjakan harga komoditas pun menjadi bagian dari risiko ini, sehingga pemerintah menurutnya akan melihat kondisi ini secara hati-hati.

"Selalu kita melihatnya adalah bagian pemulihan ekonomi. Saat ini konsentrasi utama kita adalah pemulihan ekonomi RI, karena seperti kesimpulan kita dalam periode recovery dan tiba-tiba ada perang yang menambah risiko ekonomi kita. Risikonya harga komoditas meningkat. Tentu ini semua kita kaji dan oleh karena itu, kita melihat secara hati-hati," jelasnya saat konferensi pers APBN Kita, Rabu (20/04/2022).

Dengan meningkatnya harga-harga komoditas, maka tak bisa dielakkan juga akan berdampak pada lonjakan subsidi.

"Maka kita cari balance yang tepat, besaran subsidi yang bisa menjamin recovery tetap berlanjut," pungkasnya.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir pun ikut buka suara terkait hal ini. Namun sayangnya, dia tidak berkomentar banyak dan tidak menjelaskan lebih lanjut terkait kapan rencana kenaikan harga ini akan diterapkan.

"Belum," katanya saat ditanya wartawan apakah harga Pertalite dan LPG akan naik dalam waktu dekat ini.

Seperti diketahui, harga bensin Pertalite dan Solar subsidi pada periode 1 April 2022 ini tidak mengalami perubahan, di mana masing-masing masih dipertahankan pada Rp 7.650 per liter dan Rp 5.150 per liter. Sementara harga Pertamax (RON 92) sudah dinaikkan menjadi Rp 12.500 - Rp 13.000 per liter dari sebelumnya Rp 9.000 - Rp 9.400 per liter.

Sedangkan harga Solar non subsidi kini sudah dibanderol sebesar Rp 12.950 - Rp 13.550 per liter untuk jenis Dexlite (CN 51). Artinya, ada selisih setidaknya Rp 7.800 per liter dengan harga Solar bersubsidi.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Minyak ICP Januari Meroket ke US$ 85,89/Barel, Ini Pemicunya!


(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading