Warning IMF: 'Tsunami' Inflasi Sudah Sampai di RI

News - Maesaroh, CNBC Indonesia
20 April 2022 12:50
Penjual daging sapi di Pasar Rakyat Tamansari, Bogor, Kamis (7/4/2022). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi proyeksi inflasi Indonesia menjadi 4% pada akhir 2022 dari sebelumnya 3,5% sebagai imbas meletusnya perang Rusia-Ukraina.  IMF juga merevisi rata-rata inflasi Indonesia dalam 12 bulan dari 2,9% menjadi 3,3%.

Melihat proyeksi IMF, inflasi Indonesia akan berada di titik atas target Bank Indonesia yang ada di kisaran 2-4%. Revisi proyeksi inflasi tersebut sejalan dengan koreksi IMF terhadap proyeksi inflasi global mereka untuk negara maju menjadi 5,7% dari 3,9% .

Untuk negara berkembang, inflasi diperkirakan meningkat tahun ini menjadi 8,7%, dari sebelumnya 5,9%.



IMF mengatakan perang Rusia-Ukraina semakin melambungkan inflasi global yang sebenarnya sudah melonjak sebelum perang terjadi. "Sebelum perang, inflasi sudah naik karena melonjaknya harga komoditas sebagai dampak pandemi Covid-19. Pandemi membuat keseimbangan pasokan dan permintaan terganggu," tutur IMF, dalam laporannya World Economic Outlook: War Sets Back the Global Recovery.

Harga komoditas pangan di sejumlah kawasan, sebelum perang, juga sudah melonjak karena gangguan cuaca. "Perang semakin membuat pasokan terganggu. Harga komoditas logam, mineral energi, dan pangan pun melonjak," tutur IMF.


IMF mengingatkan lonjakan inflasi akan membawa sejumlah konsekuensi. Di antaranya adalah melemahnya pertumbuhan, lebih ketatnya kebijakan moneter, serta meningkatnya anggaran untuk perlindungan sosial.

"Bank sentral di Amerika Latin, Amerika Serikat, dan negara maju sudah dalam tekanan untuk menaikkan suku bunga acuan karena inflasi terus melonjak," kata IMF.

Sebagai catatan, inflasi Amerika Serikat (AS) melonjak 8,5% (year on year/YoY) di Maret, level tertinggi dalam 40 tahun. Sementara itu, Brasil melonjak 11,30% (YoY) di Maret. Indonesia sendiri mencatatkan inflasi sebesar 2,64% (YoY) di Maret yang merupakan level tertinggi sejak April 2020 (2,67%).

"Kenaikan inflasi membuat bank sentral mempercepat kebijakan moneter yang ketat. Mereka akan memilih untuk menerapkan kebijakan agresif untuk menekan inflasi," kata IMF.

IMF memperkirakan tekanan inflasi akibat persoalan pasokan baru akan mereda menuju tahun 2023. "Sebagai dampanya, inflasi akan tetap tinggi dalam jangka waktu yang cukup lama dari proyeksi kami sebelumnya," tutur IMF.


IMF menambahkan kenaikan inflasi juga membuat pemangku kebijakan harus mengamankan anggaran untuk perlindungan sosial. Anggaran diharapkan bisa mengurangi beban bagi mereka yang rawan terhadap kenaikan harga maupun suku bunga.

IMF menjelaskan dampak perang terhadap pergerakan inflasi akan berbeda di masing-masing negara. Dampak tersebut akan dipengaruhi seberapa besar eksposur sebuah negara dengan komoditas.

Sejumlah negara akan mengalami lonjakan harga karena kenaikan harga pangan sementara yang lain karena harga energi. Dampak perang ke inflasi juga ditentukan seberapa besar peran komoditas pangan dan energi ke dalam basket inflasi.

Sebagai catatan, Rusia dan Ukraina merupakan salah satu pemasok utama komoditas pangan dan energi sehingga perang kedua negara membuat harga komoditas melambung.

Selai merevisi proyeksi inflasi global, IMF juga mengkoreksi pertumbuhan global global tahun ini menjadi 3,6% dari proyeksi sebelumnya 4,4% di awal 2022. Untuk Indonesia, IMF masih mempertahankan proyeksi pertumbuhan mereka di angka 5,4%.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

'Hantu' yang Ditakutkan Jokowi Mulai Gentayangan! Hiii...


(mae/mae)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading