RI Cuan Dagang dengan AS & India, Tekor dengan Thailand

News - Lidya Julita Sembiring, CNBC Indonesia
18 April 2022 16:05
Pekerja melakukan pendataan bongkar muat kontainer peti kemas di Terminal 3 Tanjung Priok, Jakarta, Senin (22/11/2021). Pemulihan ekonomi global dari pandemi Covid - 19 dinilai lebih cepat dari yang diekspektasi banyak pihak. Sehingga produksi dan perdagangan melonjak signifikan yang membuat ketidakseimbangan pasar, yang berimbas pada kekurangan bahan baku dan kelangkaan kontainer.. (CNBC Indonesia/ Muhammad Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca dagang dalam negeri kembali surplus sebesar US$ 4,53 miliar di Maret 2022. Artinya sudah 23 bulan berturut-turut Indonesia mencatatkan kinerja dagang yang positif.

Dari data BPS, pada Maret 2022 ini Indonesia cuan dagang terutama dari tiga negara utama yakni Amerika Serikat (AS), India dan Filipina. Dengan AS, RI cuan dagang di bulan lalu sebesar US$ 2.039,8 juta.


"Penyumbang surplus dengan Amerika Serikat itu adalah lemak dan minyak hewan/nabati, kemudian alas kaki," ujar kepala BPS Margo Yuwono, Senin (18/4/2022).

Lalu dengan India mengalami surplus dagang sebesar US$ 1.211,5 juta. Adapun komoditi penyumbang cuan dengan India adalah bahan bakar mineral dan juga lemak dan minyak hewan/nabati.

Cuan dagang terbesar ketiga adalah dengan Filipina senilai US$ 916,9 juta di Maret 2022. Komoditas penyumbangnya adalah bahan bakar mineral serta kendaraan dan bagiannya.

Di tengah catatan positif ini, ada juga realisasi negatif yakni RI mengalami tekor dagang dengan berbagai negara. Tiga utamanya adalah Thailand, Australia dan Argentina.

Dengan Thailand, RI tekor dagang senilai US$ 565,6 juta. Hal ini disebabkan oleh komoditas kembang gula, mesin dan perlengkapan mekanis serta bagiannya.

Kemudian, defisit dagang terbesar kedua terjadi dengan Australia sebesar US$ 515,9 juta. Komoditas pendukungnya adalah bahan bakar mineral dan serealia.

Terakhir, tekor dagang terbesar ketiga terjadi dengan Argentina senilai US$ 261,6 juta. Komoditas yang menyebabkan defisit dagang ini adalah serealia dan ampas industri makanan.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Impor Melonjak, Ekonomi RI Siap-siap Ngegas Pak Jokowi?


(mij/mij)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading