Ternyata Ini Penguasa Sawit di RI, Ngefek ke Minyak Goreng!

News - Damiana Cut Emeria, CNBC Indonesia
14 April 2022 18:05
Panen tandan buah segar kelapa sawit di kebun Cimulang, Candali, Bogor, Jawa Barat. Kamis (13/9). Kebun Kelapa Sawit di Kawasan ini memiliki luas 1013 hektare dari Puluhan Blok perkebunan. Setiap harinya dari pagi hingga siang para pekerja panen tandan dari satu blok perkebunan. Siang hari Puluhan ton kelapa sawit ini diangkut dipabrik dikawasan Cimulang. Menurut data Kementeria Pertanian, secara nasional terdapat 14,03 juta hektare lahan sawit di Indonesia, dengan luasan sawit rakyat 5,61 juta hektare. Minyak kelapa sawit (CPO) masih menjadi komoditas ekspor terbesar Indonesia dengan volume ekspor 2017 sebesar 33,52 juta ton. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Kepmentan No 833/2019 luasan lahan sawit Indonesia. Dimana areal tutupan kelapa sawit Indonesia mencapai 16,38 juta ton. Kelapa sawit merupakan tanaman perkebunan penghasil minyak sawit mentah (crude palm oil/ CPO), asal usul minyak goreng (migor).

Produktivitas minyak sawit mentah (crude palm oil/ CPO) Indonesia tahun 2019 dilaporkan mencapai 3,97 ton per hektare (ha), lalu turun menjadi 3,9 ton per ha di 2020. Tahun 2021 diproyeksikan naik tipis ke 3,901 ton per ha, dan jadi 3,903 ton per ha di 2022.

"Total luas lahan sawit 16,38 juta ha, luas lahan sawit rakyat itu 6,94 juta ha," kata Plt Direktur Jenderal Perkebunan Kementan Ali Jamil saat rapat dengar pendapat dengan Komisi IV DPR RI bersama BPDPKS, (12/4/2022).


Data Kementan menunjukkan, dari total luasan lahan sawit di Indonesia, sebanyak 5% atau sekitar 800 ribu ha dikuasai oleh BUMN.

Sementara, 53% atau sekitar 8,64 juta ha dikuasai oleh perusahaan swasta dan 42% lainnya atau sekitar 6,94 juta oleh rakyat.

Sementara itu, Wakil Ketua III Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Delima Azahari mengatakan, saat ini luasan lahan sawit Indonesia sebanyak 6,6 juta ha dikuasai oleh rakyat, 600 ribu ha oleh BUMN, dan 8,4 juta ha lainnya oleh perusahaan swasta. Sehingga, total areal saat ini sekitar 15,08 juta ha.

"Untuk produksi CPO dari perkebunan rakyat sebanyak 16,7 juta ton, negara (BUMN) itu 2,2 juta ton, dan swasta 30,7 juta ton. Total 49,7 juta ton," kata Delima kepada CNBC Indonesia, Kamis (14/4/2022).

Dia menjelaskan, karakter lahan sawit rakyat didominasi kepemilikan 2 ha. Namun, ada juga perkebunan kecil seluas 100-500 ha milik kelompok atau koperasi.

Ketika dikonfirmasi adanya kepemilikan kelompok masyarakat tertentu yang menguasai lahan sawit rakyat, Delima mengatakan hal itu masih belum bisa dibuktikan.

"Infonya ada praktik seperti itu tapi belum ada riset untuk membuktikan itu. Yang jelas, kepemilikan di lahan rakyat itu bisa dikontrol karena saat ini sertifikasi ISPO yang sudah mandatory juga untuk perkebunan rakyat. Jadi mereka harus punya Surat Keterangan Tanah (SKT)," jelasnya.

Dengan bersertifikat ISPO, lanjutnya, lebih mudah diterima untuk diproses di pabrik kelapa sawit (PKS).

"Dampaknya akan sangat positif, karena menunjukkan bahwa produksi sawit Indonesia sudah dilakukan dengan prinsip prinsip keberlanjutan (sustainability) dan ketertulusannya (traceability) dapat dipertanggungjawabkan," kata Delima.

Luas lahan sawit indonesia, Kementan. (Tangkapan Layar Youtube Komisi IV DPR RI)Foto: Luas lahan sawit indonesia, Kementan. (Tangkapan Layar Youtube Komisi IV DPR RI)
Luas lahan sawit indonesia, Kementan. (Tangkapan Layar Youtube Komisi IV DPR RI)

Masuk Daftar Orang Terkaya versi Forbes

Sementara itu, jika menilik daftar orang terkaya Indonesia tahun 2022 yang dirilis Forbes, terdapat nama-nama yang memiliki sumber kekayaan dari sawit.

Yaitu keluarga Widjaja, pemilik Sinar Mas Group menempati urutan kedua daftar 50 Orang Terkaya Indonesia 2021 versi Forbes.

Disusul Anthoni Salim dengan bisnis Grup Salim menempati ranking ketiga.

Dan, Bachtiar Karim pemilik grup Musim Mas menempati urutan ke-10.

Kemudian ada Martua Sitorus dan Theodore Rachmat, konglomerat sawit yang menempati posisi ke-14 dan 15. Martua adalah pemilik grup Wilmar, sedangkan Theodore memiliki bisnis sawit grup Triputra.

Juga ada Sukanto Tanoto dengan sayap bisnisnya, Royal Golden Eagle International di urutan 21.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Dewan Minyak Sawit: Kami Keberatan DMO CPO Naik Jadi 30%


(dce/dce)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading